Banner 468 x 60px

 

Minggu, 15 Maret 2020

Seberapa Bahayakah HP dalam Merusak Putra-putri Kita

0 komentar

Orang tua hendaknya tanggap dan waspada dengan apa yang dimiliki oleh anak berupa sarana komunikasi yang sedang berkembang sekarang, seperti ponsel dan yang semisalnya, terutama pengguna remaja. Remaja memiliki sifat yang tidak pernah dialami sebelumnya. Mereka hidup pada masa peralihan, mulai bangkit syahwatnya, ingin melampiaskan syahwatnya dengan beberapa macam cara.
Benda yang asalnya halal seperti ponsel, televisi, komputer tidak selamanya bermanfaat bagi pengguna. Bahkan suatu saat bisa berbahaya bagi remaja yang tipis imannya, apalagi yang tidak mengenal agama Islam secara sempurna. Berapa banyak orang tua pusing dan bersedih ketika terjadi hubungan yang haram antara anak dengan lawan jenis. Bila ditelusuri, biasanya bermuara pada keteledoran orang tua juga.
Manfaat hand phone
Tidak diingkari bahwa HP memang bermanfaat. Seandainya tidak ada manfaatnya sama sekali tentu orang tidak menggunakannya. Mungkin di antara manfaat yang sangat dirasakan dari sebuah HP adalah bisa membantu komunikasi mereka yang terjun dalam dunia bisnis, mengetahui berita dan peristiwa di belahan tempat lain, menyambung hubungan dengan keluarga atau teman dalam waktu singkat dan biaya yang murah, menyampaikan pesan singkat kepada sesama teman dan keluarga, bahkan ada fasilitas penunjuk jalan ke tempat tujuan dengan aplikasi khusus dan manfaat lainnya. Inilah di antara manfaat yang dapat diambil saat menggunakan ponsel dan yang semisalnya, tentu saja itu semua bagi orang yang benar-benar mampu memanfaatkannya.
Bahaya hand phone bagi remaja
Kita perlu mengontrol remaja putra dan putri kita. Apakah ketika mereka memiliki hand phone memanfaatkannya seperti di atas? Jika demikian, kita patut memuji dan bersyukur kepada Allah karena benda yang dimilikinya benar-benar sangat bermanfaat bagi dirinya dan keluarga. Tetapi, selain manfaat hand phone yang tercantum di atas, ternyata banyak bahayanya juga. Ini juga yang perlu kita ketahui. Jangan sampai diri atau anak kita salah dalam menggunakannya, sehingga berakibat kehancuran dan penyesalan di kemudian hari. Sebab, sering kita jumpai bahwa di antara penyebab kerusakan muda-mudi adalah hand phone atau fasilitas lain yang serupa.
Waspadai penipuan lewat hand phone
Tahukah kita seberapa bahayakah HP yang ada di tangan kita? Bahwa dengan HP manusia bisa menipu, membohongi orang, seperti meminta pulsa karena mengaku kawan akrab orang tuanya atau mendapatkan hadiah sekian juta rupiah, menyampaikan berita duka cita atas kecelakaan kerabatnya padahal tidak, memfitnah dan menggunjing orang, mengacau suami dan istri orang serta berbagai praktik penipuan lainnya. Ini adalah kezaliman yang terselubung di dalam hand phone. Kita harus waspada dan menasihati putra putri kita jangan sampai tertipu dan menipu, terfitnah dan memfitnah, karena dosanya cukup besar. Dosa ini tidak cukup pelakunya minta ampun kepada Allah Azza wajalla, tetapi harus membereskan perkaranya dengan sesama hamba. Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu menceritakan:
أَنَّ النَّبِىَّ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ ، فَقَالَ : اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Rasulullah mengutus Mu’adz ke Yaman lalu beliau bersabda, ‘Takutlah engkau dengan doanya orang yang di-zhalimi, sebab antara dia dengan Allah tidak ada yang menghalangi.” (HR. Bukhari: 9/109)
Hindari zina lewat hand phone
Dengan HP remaja bisa menggaet wanita yang bukan mahram lewat telepon atau berita singkat, mengacau istri atau suami orang lain. Berapa banyak istri atau suami menangis di rumah karena pasangan berhubungan dengan orang lain yang bukan mahramnya. Jika ini saja menimpa kepada orang yang sudah menikah, maka bagaimana dengan remaja yang tipis imannya, apalagi dia belum menikah dan ditunjang dengan syahwat yang sangat kuat? Oleh karena itu orang tua harus tanggap dengan HP yang dipegang oleh putra putrinya. Kita perlu mengontrol hand phone mereka, terutama pada saat mereka sedang tidur. Adakah isi smsnya yang berbahaya? Adakah nomor wanita yang disimpan atau nomor pria yang bukan mahramnya? Jika ada, orang tua harus menasihati putra dan putrinya, atau orang tua mencoba meneleponnya untuk segera diselesaikan perkaranya. Adakah HP anak kita menyimpan gambar lain jenis? Ini semua perlu diperhatikan agar kita tidak menyesal di kemudian hari. Bukankah kita sering mendengar berita wanita hamil sebelum menikah? Di antara penyebab awalnya adalah HP! Sedangkan bahaya lainnya: onani, masturbasi atau homosex dan perbuatan mesum lainnya. Na’udzu billahi min dzalik.
Begadang malam dengan hand phone
Jika remaja telah berkarib dengan hand phone, biasanya akan sulit tidur malam. Boleh jadi karena asyik berhubungan dengan lain jenisnya atau keluar malam mencari mangsa. Atau menikmati film serta gambar cabul yang tersedia dengan mudah di hand phone model baru dengan fasilitas yang serba canggih.
Orang tua hendaknya mencari anaknya ketika tidak ada di rumah pada malam hari. Orang tua juga hendaknya mengetahui apa yang dilakukan oleh remajanya di kamar, apakah dia tidur ataukah dia sedang sibuk menikmati renungan setan karena mereka sedang berhubungan dengan lawan jenis atau menikmati gambar-gambar porno? Allah mengingatkan kita agar berlindung kepada-Nya dari bahaya dan kejahatan malam bila telah gelap gulita. (Lihat: QS. al-Falaq: 3)
Hindari berjudi lewat Hand phone
Bukankah kita sering menerima sms, yang isinya “Anda ingin beruntung sekian juta, kendaraan bermotor, mobil, rumah dan lainnya, kirim ke no ini.. sekali sms Rp. 1.000undian akan diumumkan pada hari sekian, tanggal sekian, jam sekian..” atau kalimat lain yang serupa? Berapa banyak manusia, bahkan remaja tertipu dengan perbuatan judi ini? Sudahkah orang tua menasihati diri dan anaknya?! (Lihat: QS. al-Mā`idah: 90)
Hand phone menyita waktu remaja
Di antara bahaya HP bagi remaja, akan menghabiskan waktu untuk mencari teman bicara dan kenalan ke mana-mana tanpa faedah, terutama bila dia mendapatkan bonus bicara atau sms. Terkadang tidak beradab, menelpon teman waktu istirahat siang atau malam hari, mengajak bercanda, menyita waktu orang lain. Bahkan terkadang waktu shalat digunakan untuk berhubungan dengan lawan jenis. Sampai kapan? Sampai bonus itu habis dan jika perlu menambah lagi. Di mana dia menggunakannya? Di mana saja berada; di jalan raya, tepi jalan, saat mengendarai kendaraan, sebelum tidur, saat sedang makan, ketika sekolah, saat sedang menunggu imam shalat, mendengarkan kajian, bahkan pada saat khutbah! Bukankah ini menyia-nyiakan waktu, menyalahgunakan waktu ibadah untuk maksiat? Lantas, bagaimana mereka menjadi anak yang shalih pengamal al-Qur’an dan Sunnah jika demikian keadaannya? Kita akan ditanya oleh Allah sejauh mana kita memanfaatkan nikmat waktu ini. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba bergeser di sisi Allah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai lima perkara: Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya? Masa mudanya, digunakan untuk apa? …” (Shahih, HR. at-Tirmidzi: 2416)
Hand phone menguras kantong
Tatkala remaja hobinya main HP, tentu membutuhkan uang yang banyak. Untuk membeli HP model terbaru, membeli pulsa dengan paket bicara, paket sms atau paket internet untuk melampiaskan keinginan nafsunya. Bahkan satu kartu pun tidak cukup. Begitulah kenyataannya.
Apakah dengan pengeluaran yang cukup besar ini, mereka manfaatkan untuk perkara yang halal dan untuk akhiratnya ataukah sebaliknya, untuk merusak diri dan agamanya? Siapakah yang bertanggung jawab mengawasi mereka? Tidak lain adalah orang tua atau yang mewakilinya? Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang kita menyia-nyiakan harta, lantaran hal itu akan ditanyakan besok pada hari Kiamat.
Begitulah di antara bahaya hand phone yang harus kita waspadai. Semoga Allah melindungi putra putri kita dari bahaya kemajuan teknologi dan memberi kemudahan penggunaannya kepada yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Wallahu a’lam…
Penulis: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron
Informasi MARIBARAJA
Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam AJMA TEAMAJMA
Read more...

Sabtu, 14 Maret 2020

Bangga Karena Anak Sukses Ekonominya???

0 komentar

Umumnya orang tua bangga tatkala anaknya sukses ekonomi dan sehat badannya, padahal sukses ekonomi belum mesti diperoleh dengan jalan yang halal atau belum mesti bahagia. Begitu pula badan yang sehat, belum mesti Allah ﷻ meridhainya, karena orang kafir pun banyak yang kaya dan sehat badannya. Maka keliru jika orang tua bangga karena anaknya sukses ekonomi dan sehat badan, bila tidak disertai dengan iman dan takwa.

ANAK SEHAT BADAN DAN KAYA, TETAPI BERMAKSIAT
Bisa jadi anak badannya sehat, mendapatkan limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia mencari rezeki dengan jalan yang haram; mencuri, berjudi, memakan riba. Ketahuilah, bahwa mendapatkan limpahan kekayaan dan badan sehat seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj. Istidraj artinya, suatu jebakan berupa kesehatan badan dan kelapangan rezeki, meskipun yang diberi dalam keadaan terus bermaksiat pada Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kamu melihat Allah ﷻ memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (Al-Mu’jam al-Kabir no. 14327, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami no. 561)
Allah ﷻ berfirman,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. al-An’am: 44)
Syaikh as-Sadi رحمه الله menjelaskan ayat di atas; “Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagai pintu dunia dan kelezatannya (yang fana). Mereka pun lalai. Sampai tatkala mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah siksa mereka secara tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar. (Tafsir as-Sadi hal. 260)

KESEHATAN HATI ANAK ADALAH KEBAHAGIAAN HAKIKI
Kesehatan yang sebenarnya, yang menyejukkan hati orang tua dan anak adalah kesehatan hati anak yang berilmu agama, beramal shalih, dan mau berdakwah dengan penuh kesabaran. Inilah kesehatan yang menggembirakan orang tua di dunia dan di akhirat. Hal ini bisa kita bayangkan, bahkan buktikan. Ketika anak sehat badannya, dia bisa mencari rezeki sendiri, bahkan bisa membantu orang tuanya, tetapi dia nakal, berjudi, minum minuman keras, berhutang tidak dibayar, menipu, dsb. Tidakkah orang tua sedih jika didatangi banyak orang karena kasus (ulah) anaknya sendiri?
Sebaliknya, jika anak kita rezekinya pas-pasan, tetapi ahli ibadah, dengan orang tua baik akhlaknya, meski orang tua tidak dibantu ekonominya, maka orang tua yang beriman tentu lebih bisa bergembira.
Allah ﷻ memberitahu kita semua, bahwa kemuliaan seseorang adalah ketakwaan hati yang mau melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal. (QS. al-Hujurat: 12)
Rasulullah ﷺ mengabarkan, bahwa kesehatan hati, seperti ikhlas beramal mencari ridha Allah adalah yang dinilai. Beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat badan dan penampilanmu akan tetapi melihat hatimu.” (HR. Muslim: 2564)
Begitulah pentunjuk Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ, cukup gamblang menjelaskan bagi kita yang beriman, bahwa hakikat kebahagiaan orang tua terhadap anaknya, ialah gembira tatkala anak dapat mengilmui agama dan beramal shalih, bukan sekadar sehat fisik, kaya, tetapi penggemar dosa.

BERGEMBIRA YANG KELIRU DAN BERBAHAYA
Terkadang anak merasa bangga dan gembira karena dia mendapatkan rezeki, padahal dia memperolehnya dengan mencuri dan menipu, dia selamat tidak tertangkap, orang-orang tua pun merasa bangga pula karena dapat bantuan dari anaknya dari hasil yang haram. Terkadang orang tua berkata, “saya sudah bahagia sekarang. Anak-anak saya semuanya sudah ‘jadi’, sudah berhasil semua. Saya bangga, anak pertama wakil direktur pabrik rokok, anak kedua saya jadi koordinator umum di urusan bea cukai, anak ketiga menjadi direktur perusahan rambut palsu, putri yang keempat pimpinan pemasaran minuman keras, dan seterusnya”. Inilah kegembiraan yang keliru dan sangat berbahaya. Padahal Allah ﷻ mengingatkan pelaku perbuatan haram dan keji ini dengan firman-Nya:
أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. al-A’raf: 99)
Syaikh as-Sadi رحمه الله menjelaskan ayat di atas, “Ayat ini adalah ancaman Allah yang harus ditakuti oleh setiap hamba. Bahwa tidak layak seorang hamba yang beriman merasa aman dari siksa Allah atas perbuatan dosanya. Tetapi hendaknya senantiasa merasa takut kepada Allah, menghadapi bala’ yang bisa mengurangi keimanannya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman 1/298)
Seharusnya seorang muslim menjaga kehormatan dirinya dan anak-anaknya, jangan sampai menyusut imannya karena dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَزْنِي الْعَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَقْتُلُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah berzina seorang hamba yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan sempurna beriman, dan tidaklah mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan sempurna beriman, tidaklah ia meminum khamer saat meminumnya dan ia dalam keadaan beriman, dan tidaklah dia membunuh sedang dia dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari: 6807)

ANAK KAYA BUKAN UKURAN KEBAHAGIAAN
Sungguh amat keliru jika orang tua punya anggapan, bahwa anak kaya menandakan Allah mencintainya dan menunjukkan kebahagiaan hakiki. Karena kita saksikan orang kafir umumnya lebih kaya dan lebih menjaga kesehatan badan mereka, tetapi Allah ﷻ membencinya karena kekufuran dan kemaksiatannya. (Lihat QS. Saba: 35)
Ini memang benar prinsipnya orang kafir, karena mereka penyembah dunia. Mereka sama sekali tidak berpikir kehidupan di akhirat. Allah ﷻ mengabarkan, bahwa dengan ditangguhkan mereka menganiaya orang yang beriman dan mereka berbuat curang, tetap sehat dan kaya, lalu apakah Allah membiarkan mereka? Tidak, pasti Allah akan menimpakan hukuman saat tiba masanya kelak. Firman-Nya:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguhan kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. Ali Imran: 178)
Kekayaan dan badan yang sehat tanpa iman, bukanlah tolak ukur kebaikan manusia, tetapi justru itu ujian bagi mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
إنَ اللهَ يُعطٍي الدُنْياَ مَنْ يُحِبُ وَمَنْ لاَ يُحِبُ وَلَاَ يُعْطِي الإيْماَنَ إلاَ مَنْ يُحِبُ
“Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang-orang yang Dia cintai dan orang-orang yang tidak Dia cintai. Tetapi Dia tidak memberikan keimanan kecuali hanya kepada orang-orang yang Dia cintai saja.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 6/482)

KEKAYAAN ANAK YANG SEBENARNYA
Istilah kaya dan miskin menurut bahasa dan yang dimaklumi orang awan, ialah mereka yang memiliki harta yang banyak, itulah orang kaya. Sebaliknya, orang miskin adalah yang serba kurang kebutuhan hariannya. Namun ketahuilah! kaya yang mesti membahagiakan kehidupan dunia dan akhirat adalah kekayaan hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Yang namanya kaya (ghina) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari: 6446, -Syamilah-)
Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan hadits ini, “Kaya yang terpuji ialah kaya hati, merasa cukup dengan pemberian Allah yang dia terima, tidak tamak mencarinya. Bukan yang dinamakan kaya, orang yang banyak hartanya namun masih rakus mencari tambahan. Karena orang yang selalu mencari tambahan rezeki, berarti dia merasa kurang dengan pemberian yang ada, dan dia bukan dinamakan orang yang cukup atau kaya.” (Syarh Shahih Muslim 4/3, -Syamilah-)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله menjelaskan mengenai ciri kebahagiaan, “Jika diberi (kenikmatan) maka ia bersyukur, jika diuji (dengan musibah) ia bersabar dan jika melakukan dosa ia beristigfar (bertaubat). Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan.” (Matan al-Qawaid al-Arba)

KEBAHAGIAAN YANG SEBENARNYA
Kebahagiaan yang hakiki adalah bahagia jika melaksanakan perintah Allah dan merasa sedih jika melakukan kemaksiatan.
Jadi, jika kita berat melaksanakan ibadah seperti; shalat, puasa, menuntut ilmu, atau berat melaksanakan amalan-amalan sunnah, maka itu adalah tanda tidak bahagia.

Kemudian jika kita melakukan maksiat –na’udzubillah- tetapi kita tenang-tenang saja, bahkan merasa senang, atau yang lebih parah tidak tahu bahwa hal yang kita lakukan adalah maksiat dan dilarang oleh agama, maka ini adalah makar. Perhatikan perkataan Ibnu Masud رضي الله عنه berikut:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir atau pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangannya untuk mengusir lalat tersebut.” (Diriwayatkan oleh Bukhari: 6308, -Syamilah-)
Semoga kita dikarunia oleh Allah ﷻ anak yang shalih dan shalihah yang membahagiakan di dunia dan di akhirat. Aamiin…
Penulis: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc
Informasi : MARIBARAJA

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam AJMA TEAM
Read more...

Kamis, 12 Maret 2020

JAGALAH ANAKMU DARI API NERAKA !!

0 komentar

Kebaikan anak dan keluarga sangat berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan negara. Oleh karena itulah, agama Islam banyak memberikan perhatian dalam masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam ialah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan mereka menuju neraka.
Marilah kita perhatian perintah Allah Yang Mahakuasa berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. at-Tahrim: 6)
ALLAH ﷻ MEMUJI ORANG YANG BERIMAN
Firman Allah (yang artinya): “Hai orang yang beriman”, maksudnya adalah hamba yang yang dicintai oleh Allah ﷻ.
Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه dan para ulama salaf berkata, “Jika engkau mendengar Allah ﷻ berfirman dalam al-Qur’an, ‘Hai orang-orang yang beriman,’ maka perhatikanlah ayat itu baik-baik dengan telingamu. Karena itu berkenaan dengan kebaikan yang Dia perintahkan kepadamu atau keburukan yang Dia melarangmu darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/80)
KIAT MENJAGA ANAK DARI API NERAKA
Orang yang beriman tidak cukup menjaga dirinya sendiri dari api nereka, tetapi harus menjaga anak dan keluarganya juga, sebagaimana keterangan ayat diatas, yang artinya, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Jika api di dunia berbahaya bagi diri dan keluarga kita, maka api di akhirat akan jauh lebih berbahaya, karena bahan bakarnya dari manusia dan batu. Tentu akan jauh lebih panas.
Lalu bagaimana kita menjaga diri kita dan anak kita dari api neraka?
Abdullah bin Abbas رضي الله عنه berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allah ﷻ akan menyelamatkanmu dari api neraka.”

Mujahid رحمه الله berkata tentang firman Allah ‘Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,’ yaitu, “Bertakwalah kepada Allah, dan perintahkan keluargamu agar turut bertakwa kepada Allah ﷻ.”
Qatadah رحمه الله berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintah mereka untuk bertakwa kepada Allah dan melarang dari kemaksiatan kepada-Nya, dan mengatur mereka serta memerintah mereka untuk melaksanakan perintah-Nya, dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allah, berarti engkau harus menghentikan dan melarang keluarga(mu) dari kemaksiatan itu.” (Lihat semua riwayat di atas dalam Tafsir Ibnu Katsir, surat at-Tahrim ayat ke-6)
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari رحمه الله berkata, “Allah Yang Mahatinggi berfirman yang artinya; ‘Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, ‘Peliharalah dirimu!,’ Yaitu maksudnya, ‘Hendaklah sebagian kamu mengajarkan kepada sebagian yang lain perkara yang dengannya orang yang kamu ajari bisa menjaga diri mereka dari neraka, menolak neraka darinya, jika hal yang diajarkan tersebut diamalkan. Yaitu berupa ketaatan kepada Allah. Dan lakukanlah ketaatan kepada-Nya.’
Firman Allah, ‘dan keluargamu dari api neraka,’ maksudnya, ‘Ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allah yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka.’ Sungguh para ahli tafsir mengatakan seperti yang kami katakan ini.” (Tafsir ath-Thabari 23/491)
Imam al-Alusi رحمه الله berkata, “Menjaga diri dari neraka adalah dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan-ketaatan. Sedangkan menjaga keluarga adalah dengan mendorong mereka untuk melakukan hal itu dengan nasihat dan ta’dib (hukuman). Yang dimaksukan dengan keluarga, berdasarkan sebagian pendapat, mencakup: istri, anak, budak lelaki dan budak perempuan.
Ayat ini dijadikan dalil atas kewajiban seorang laki-laki mempelajari kewajiban-kewajiban dan mengajarkannya kepada mereka.” (Tafsir al-Alusi 21/101)

Semakna dengan ayat ini, adalah firman Allah ﷻ:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Sedang akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha: 132)
Dan termasuk semakna dengan ayat ini adalah sabda Nabi ﷺ:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan), serta pisahkan mereka di tempat-tempat tidur masing-masing.” (HR. al-Hakim, Ahmad dan Abu Dawud; disahihkan al-Albani dalam al-Irwa’)
Mengajari ibadah kepada anak-anak bukan hanya sebatas shalat, namun juga ibadah-ibadah lainnya. Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata, “Para ahli fikih berkata, ‘Demikian juga (anak-anak dilatih) tentang puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk melaksanakan ibadah, supaya dia mencapai dewasa dengan selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, dan Allah Yang Memberi taufik.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. at-Tahrim ayat ke-6)
ORANG TUA WAJIB MENDIDIK ANAKNYA
Ayat di atas menjelaskan peran penting orang tua, yaitu harus menjaga dirinya dari perbuatan yang menjerumuskan kepada neraka, sebagaimana keterangan ahli tafsir sebelumnya. Lebih dari itu, orang tua berkewajiban mendidik anaknya, karena orang tua menjadi pemimpin rumah tangga, baik dia sebagai bapak atau ibu. Dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari pembalasan, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ,
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّته
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin.” (HR. Bukahri: 5200)
Dalam hadits di atas, jelaslah Allah ﷻ telah menjadikan setiap orang pemimpin, baik skala bangsa, umat, istri dan anak-anaknya. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ingatlah, tanggung jawab anak dan istri sangat besar di sisi Allah. Hal ini dengan menjaga mereka dari api neraka dan berusaha menggapai kesuksesan di dunia dengan mendapatkan sakinah, mawaddah, rahmat dan di akhirat dengan masuk ke dalam surga. Inilah sesungguhnya target besar yang harus diusahakan untuk diwujudkan oleh setiap keluarga.
Oleh karena itu, Islam memberi perhatian khusus dan menetapkan kaidah yang kokoh dalam pembentukan keluarga muslim. Islam memberikan tatanan lengkap dimulai dari proses pemilihan istri hingga solusi bila rumah tangga tak dapat dipertahankan kembali.
Pembinaan keluarga ini semakin mendesak dan darurat bila melihat keluarga sebagai benteng terakhir kaum muslimin yang sangat diperhatikan para musuh-musuh Islam di luar sana. Mereka berusaha merusak benteng ini dengan berbagai serangan dan sekuat kemampuan mereka. Memang sampai sekarang masih ada yang tetap kokoh bertahan, namun sudah sangat banyak yang gugur dan hancur berantakan.
Demikianlah, para musuh Islam senantiasa menyerang kita dan keluarga kita. (Lihat QS. Al-Baqarah: 217)

Hal ini diperparah lagi dengan keadaan kaum muslimin dewasa ini yang telah memberikan perhatian terlalu besar kepada ilmu-ilmu dunia, namun lupa ilmu agama yang jelas lebih penting. Ilmu yang menjadi benteng akhlak dan etika seorang muslim dalam hidup, dan menggunakan kemampuannya dalam mengarungi kehidupan yang dipenuhi gelombang ujian dan fitnah. Mereka lupa membina dirinya, keluarga dan anak-anaknya dengan syariat Islam yang telah membentuk para salaf kita menjadi umat terbaik di dunia.
Ibnu al-Qayyim رحمه الله menyatakan, “Berapa banyak orang yang menyengsarakan anak dan buah hatinya di dunia dan akhirat dengan tak acuh dan tidak mendidiknya serta membantu mereka menumpahkan syahwatnya. Dengan itu, ia menganggap telah memuliakannya, padahal ia menghinakannya, atau telah mengasihinya padahal ia telah menzaliminya. Sehingga ia kehilangan (kesempatan) memanfaatkan anaknya (untuk bekal akhirat) dan anaknya pun kehilangan bagiannya di dunia dan akhirat. Apabila engkau perhatikan baik-baik kerusakan pada anak-anak maka engkau dapati umumnya dari pihak orang tua terutama bapak.” (Tuhafatul Maudud fi Ahkam al-Maulud hal. 242)
Beliau juga menyatakan, “Siapa yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya semua yang bermanfaat baginya dan meninggalkannya begitu saja, maka ia telah melakukan kejelekan yang paling besar padanya. Mayoritas datangnya kerusakan pada anak-anak, dari pihak bapak dan tidak adanya perhatiannya mereka terhadap anak-anak serta tak mau mengajari anak kewajiban agama maupun sunnah-sunnahnya. Sehingga mereka telah menelantarkan anak-anak sejak masa kecil.
Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari diri sendiri, orang tua mereka pun tidak dapat mengambil manfaatnya ketika telah tua nanti.

Sebagaimana ada sebagian orang tua yang mencela anaknya yang durhaka lalu sang anak menjawab, ‘Wahai bapakku, engkau telah mendurhakaiku ketika aku kecil maka (sekarang) aku mendurhakaimu setelah engkau tua dan engkau telantarkan aku ketika aku masih kanak-kanak maka (sekarang) aku menelantarkanmu ketika engkau telah tua.’” (Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud hal. 229)
Sudahkah kita perhatikan anak-anak kita di rumah, berapa banyak perangkat modern seperti smartphone yang mereka mainkan sehingga mereka lupa apa yang menjadi kewajiban mereka menuntut ilmu syar’i, lupa membaca al-Qur’an dan hadits, serta lupa amal ibadah mereka yang wajib dan sunnah. Belum lagi pergaulan bebas muda mudi, siang dan malam, belum cukup di jalan raya, di sekolah, bahkan di mana saja mereka berada, rasanya sulit dibendungnya, kalau bukan orang tua mereka, siapa lagi yang harus mengurusi mereka?
Semoga keterangan yang singkat ini menjadi pelajaran buat kita sebagai orang tua, dan yang mewakilinya, dan semoga kita semua diberi kemudahan dalam mendidik mereka anak-anak kita. Aamiin…
Penulis: MARIBARAJA

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam AJMA TEAM
Read more...

Rabu, 11 Maret 2020

Yang Lebih Bahaya Dari Corona

0 komentar

Informan : RUMASYHO

Kita diperintahkan untuk meminta ‘Afiyah

Abu Al-Fadhl Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib meriwayatkan, “Aku berkata,
يَا رسول الله عَلِّمْني شَيْئاً أسْألُهُ الله تَعَالَى، قَالَ : (( سَلوا الله العَافِيَةَ )) فَمَكَثْتُ أَيَّاماً، ثُمَّ جِئْتُ فَقُلتُ : يَا رسولَ الله عَلِّمْنِي شَيْئاً أسْألُهُ الله تَعَالَى ، قَالَ لي : (( يَا عَبَّاسُ ، يَا عَمَّ رسول اللهِ ، سَلُوا الله العَافِيَةَ في الدُّنيَا والآخِرَةِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح )) .
Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku minta kepada Allah.’ Maka beliau menjawab, ‘Mintalah kepada Allah keselamatan.’ Setelah beberapa hari, aku datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang aku bisa minta kepada Allah.’ Beliau menjawab, ‘Wahai ‘Abbas, paman Rasulullah, mintalah kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, 726; Tirmidzi, no. 3581; Ahmad, 1:209, dari jalur Yazid bin Abi Ziyad dari ‘Abdullah bin Al-Harits, darinya lalu ia menyebutkannya. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Doa meminta perlindungan dari penyakit berbahaya

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ
“ALLOOHUMMA INNII ‘AUUDZU BIKA MINAL BAROSHI WAL JUNUUNI WAL JUDZAAMI WA SAYYI-IL ASQOOM (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit yang jelek lainnya).” (HR. Abu Daud, no. 1554; Ahmad, 3: 192. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin juga menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Doa ketika melihat yang lain tertimpa musibah

Dari Ibnu ‘Umar, dari bapaknya ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوفِىَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ
“Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan,
‘ALHAMDULILLAHILLADZI ‘AAFAANI MIMMAB TALAAKA BIHI, WA FADDHALANII ‘ALA KATSIIRIM MIMMAN KHALAQA TAFDHILAA’
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya.
Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, no. 3431; Ibnu Majah, no. 3892. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini dha’if dan penguatnya, syawahidnya juga dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dalam riwayat di atas ada kalimat lanjutan,
وَقَدْ رُوِىَ عَنْ أَبِى جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِىٍّ أَنَّهُ قَالَ إِذَا رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَتَعَوَّذَ مِنْهُ يَقُولُ ذَلِكَ فِى نَفْسِهِ وَلاَ يُسْمِعُ صَاحِبَ الْبَلاَءِ.
Diriwayatkan dari Abu Ja’far bin ‘Ali bahwa ia berkata, “Jika ada yang melihat yang lainnya tertimpa musibah, maka memintalah perlindungan (pada Allah) darinya. Hendaklah ia mengucapkan bacaan tadi, namun jangan sampai didengar oleh orang yang tertimpa musibah.”

Sikap seorang muslim terhadap corona

Pertama: Tawakkal kepada Allah karena semua sudah ditakdirkan oleh-Nya

Dengan tawakkal kepada Allah, Dia akan memberikan jalan keluar sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Kedua: Menjaga aturan Allah

Dalam nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan,
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ،
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516; Ahmad, 1:293; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 14:408. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ketiga: Ingatlah keadaan seorang mukmin antara bersyukur dan bersabar

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Keempat: Lakukan ikhtiar dan sebab

Dalam hadits disebutkan tentang khasiat kurma,
مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ
Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5779 dan Muslim no. 2047).
Untuk menghadapi wabah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا. متفق عَلَيْهِ
Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (HR. Bukhari, no. 3473 dan Muslim, no. 2218)

Kelima: Perkuat diri dengan dzikir, terutama sekali rutinkan dzikir pagi dan petang.

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ
Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: BISMILLAHILLADZI LAA YADHURRU MA’ASMIHI SYAI-UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA’ WA HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM (dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak aka nada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari, no. 5009 dan Muslim, no. 808)
Juga ada anjuran membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.
‘Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata kepadaku, ‘Bacalah: Qul huwallahu ahad (surah Al-Ikhlash) dan Al-Mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) saat petang dan pagi hari sebanyak tiga kali, maka itu mencukupkanmu dari segala sesuatunya.” (HR. Abu Daud, no. 5082 dan Tirmidzi, no. 3575. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).

Keenam: Jangan percaya berita HOAX, dan pintar-pintar menyaring berita

Wajib bagi setiap muslim tidak hanyut dan terlena dengan kabar-kabar dusta atau kita biasa sebut dengan HOAX.
Seorang muslim harus pandai menyikapi berita dengan kroscek terlebih dahulu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ketujuh: Bersabar

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ,  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ .  أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (segala sesuatu milik Allah dan kembali kepada Allah). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Ingatlah musibah yang paling besar adalah musibah yang menimpa agama, bukan musibah dunia.

Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam ‘Syuabul-Iman’, dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah ia berkata, “Sesungguhnya aku ditimpa musibah dan aku memuji kepada Allah karena empat hal:
  1. Aku memuji Allah atas ujian yang tidak lebih besar dari yang menimpa ini.
  2. Aku memuji Allah tatkala aku diberikan kesabaran atasnya.
  3. Aku memuji Allah karena diberikan taufik mengucapkan kalimat Istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un) hingga mengapai pahalanya.
  4. Aku memuji Allah karena musibah yang menimpaku bukan musibah dalam agamaku.”’’

Yang lebih parah dari Virus Corona

Para ulama menjelaskan, “Penyakit itu ada dua macam yaitu penyakit badan dan penyakit hati. Penyakit hati ini tentu saja lebih parah dari penyakit badan. Karena jika seseorang tertimpa penyakit hati maka kerugiaan di dunia dan akhirat sekaligus akan menimpa dirinya. Wal ‘iyadzu billah.”
Dalam hadits disebutkan,
أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ
Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari, no. 2051 dan Muslim, no. 1599)
Para ulama katakan bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:210.
Artinya, jika hati rusak, maka yang lainnya pun akan ikut rusak.
Sehingga penyakit hati itulah yang bahaya, karenanya kita meminta kepada Allah untuk diteguhkan hati dalam ketaatan.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK (artinya: Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu).” (HR. Muslim, no. 2654)

Berbagai penyakit pada hati

Pertama: Kesyirikan

Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Kedua: Kemunafikan

Tanda munafik pada zaman ini:
  1. Jadi orang yang tidak amanah dan tidak jujur
  2. Malas-malasan ibadah
  3. Pintar berkata bijak namun malah melakukan yang mungkar
  4. Dari luar terlihat khusyu’, namun batin tidak khusyu’
  5. Mengaku beriman namun tidak punya amalan sama sekali
  6. Pria enggan shalat berjamaah di masjid
  7. Malas merutinkan Shalat Shubuh dan Shalat Isya

Ketiga: Al-ghaflah (lalai)

Sebab-sebabnya:
  1. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama.
  2. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya.
  3. Enggan berdzikir kepada Allah.
  4. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri.
  5. Lalai dalam memperhatikan niat.
  6. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.

Keempat: Menuruti hawa nafsu

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (10:635) menyatakan, “Adanya nafsu dan syahwat itu sendiri tidaklah berakibat seseorang dihukum. Seseorang baru dikatakan terkena hukuman ketika ia menuruti nafsunya sehingga yang ia harus lakukan adalah melarang nafsunya (untuk melanggar larangan Allah). Melarang nafsu yang akan salah itulah yang masuk ibadah dan amal shalih.”
Sebab menuruti hawa nafsu:
  1. Membiasakannya sejak kecil
  2. Duduk-duduk dengan pengikut hawa nafsu
  3. Kurang mengenal hak Allah tidak mengenal akhirat dengan baik
  4. Kurang amar ma’ruf nahi mungkar
  5. Cinta dunia dan terus tersibukkan dengan dunia
  6. Tidak mengetahui bahaya karena menuruti hawa nafsu

Kelima: At-tarof (hidup untuk terus bersenang-senang)

At-tarof itu sebagaimana disebutkan dalam ayat,
فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku“. (QS. Al-Fajr: 15)
Nama lain dari at-tarof adalah at-tana’um. At-tarof diartikan dengan melampaui batas dari yang semestinya dengan terus memperbanyak dunia.
Yang patut diingat:
  1. Nikmat itu bisa jadi ujian dan musibah.
  2. Nikmat dunia bisa jadi sebab hilangnya nikmat di akhirat.
  3. Padahal semua nikmat itu akan ditanya.
Bentuk at-tarof yang ada saat ini:
  1. Sibuk memerhatikan model rambut dan itu dilakukan berlebihan.
  2. Berlebihan dalam berhias diri.
  3. Berlebihan dalam membeli pakaian dengan memerhatikan merk dan brand ternama.
  4. Berlebihan dalam makan dan minum.
  5. Berlebihan dalam pesta pernikahan.
  6. Gawai, aksesoris, dan nomor cantiknya.
  7. Mobil dan aksesorisnya, hingga nomor platnya.
  8. Berlebihan dalam membangun rumah.
  9. Berlebihan dalam memiliki pembantu, sampai ada rumah yang pembantunya itu lebih dari pemilik rumah.
  10. Berlebihan dalam hiburan dan permainan.
Lihat bahasan penyakit-penyakit hati dalam Mufsidaat Al-Qulub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Cetakan Pertama, Tahun 1438 H, Penerbit Majmu’ah Zad.


Penulis : RUMASYHO


Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam AJMA TEAM
Read more...