Banner 468 x 60px

 

Selasa, 31 Desember 2019

Hal-hal yang membuat sulit menghafal ayat-ayat Al-Qur'an

0 komentar

Hal-hal yang membuat sulit menghafal ayat-ayat Al-Qur'an:

A. Tidak menguasai mahkrojul huruf dan tajwid.
Salah satu faktor kesulitan dalam menghafal al-quran ialah karena bacaan yang tidak Bagus, Baik dari  segi  makhrojul huruf, kelancaran membacanya, ataupun tajwidnya. sebagaimana dijelaskan sebelumnya, untuk menguasai al qur'an dengan baik dan benar, anda harus menguasai makhrojul huruf dan memahami tajwid dengan baik. walaupun pada dasarnya menghafal al-qur'an tidak pernah lepas dari kendala dan beberapa problem yang menyulitkan, namun jika tidak mempunyai modal tersebut, maka ia akan mengalami banyak kesulitan.

Selain itu, orang yang tidak menguasai makhrojul huruf dan memahami ilmu tajwid, kesulitan dalam menghafal akan bener-benar terasa, dan masa menghafal juga akan semakin lama tanpa menguasai keduanya, bacaan al-qur'annya pun akan kaku, tidak lancar, dan banyak yang salah.

Padahal, orang yang hendak menghafal al-qur'an, bacaannya terlebih dahulu  lancar dan benar, sehingga memudahkan dalam menjalani proses menghafal al-qur'an. 

B. Tidak sabar.
Sabar merupakan kunci kesuksesan untuk meraih cita-cita, termasuk cita-cita dan keinginan untuk menghafal al-qur'an. Kesulitan akan anda hadapi jika tidak mempunyai sifat sabar dalam menghafal al-qur'an. Oleh karena itu anda tidak boleh mengeluh dan patah semangat ketika mengalami kesulitan dalam proses menghafal. Bila anda sabar dan tulus menjalani nya, semua ayat ayat yang dihafalkan akan terasa sangat mudah dan tidak mengalami kesulitan yang berarti. 

Ekstra sabar sangat di butuh kan karena proses menghafal al-qur'an memerlukan waktu yang relatif lama, konsentrasi, dan fokus dalam hafalan. Anda harus sabar dalam menghafalkan ayat demi ayat, halaman demi halaman, lembar demi lembar, surat demi surat, juz demi juz yang anda lewati.

Sa'at menghafalkan al qur'an, anda akan mengalami masalah yang monoton, ganguan, dan cobaan dari berbagai arah. Terkadang, ujian ini membuat sang penghafal bisa berpaling dari hafalan nya. Demikian juga kesulitan dalam variasi ayat ayat al-qur'an yang panjang dan pendek pendek, kalimat yang sulit di baca (ayat mutasyabihat), dan lain sebagainya. 

Semua kesulitan tersebut akan dapat di lalui jika anda mempunyai kesabaran yang tinggi. Namun, bila dalam proses menghafal ini anda tidak sabar, maka proses menghafal al-qur'an yang sedang berjalan akan gagal dan macet di tengah jalan. 

C. Tidak sungguh sungguh 
Anda akan mengalami kesulitan dalam menjalani proses menghafal al-qur'an jika anda tidak kerja keras dan sungguh sungguh. Sebenarnya, terkadang kesulitan tersebut di sebabkan karena sifat malas anda serta ketidak tekunan anda dalam menghafal.

Apabila  ingin menjadi  seorang  hafidz, anda harus  bekerja  dan sungguh sungguh dalam menghafal al quran, layaknya orang  yang siap mencapai sebuah kesuksesan, aktivitas menghafal al-qur'an  adalah lebih  menilai ibadah di sisi allah dari  pada tujuan-tujuan yang lain. Dengan menghafal al-qur'an, berarti anda telah melestarikan terjaganya keaslian al-quran dari penyimpangan dan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebab, sesungguhnya, orang yang bekerja keras dan sungguh-sungguh menghafal adalah manusia pilihan allah swt. 

Jika anda tidak bekerja keras dan sungguh sungguh dalam menghafal alquran, berarti niat tanda hanya setengah hati. Oleh karena itu, anda harus berusaha untuk menghadirkan mood atau melawan kemalasan, baik pada waktu  pagi, siang, dan malam hal ini sesuai dengan sabda rasulullah saw  sebagai berikut :
"Dan, karuniakanlah kami agar dapat membacanya pada awal malam dan pada ujung siang. "

D. Tidak menghindari dan menjauhi maksiat.
Tidak menghindari dan menjauhi perbuatan dosa akan membuat anda kesulitan dalam menghafal al-qur'an. Hal tersebut sama dengan ketika anda tidak menghindari perbuatan yang dilarang, sehingga yang mengakibatkan  hafalan al-qur'an mudah  lupa atau hilang. Melakukan maksiat melalui mata menjadikan mata anda kotor dan ternoda, melihat wanita yang bukan mahromnya yang memakai pakaian terbuka juga merupakan sebuah musibah. Hal ini akan membuat anda kesulitan untuk menghafal al-qur'an. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan maksiat supaya mata anda bersih dan tidak mengalami kesulitan dalam menghafal. 

Begitu juga jika melakukan maksiat melalui telinga, dengan dibiarkan mendengarkan sesuatu yang bermaksiat, yang mengakibatkan anda kesulitan menghafal al-qur'an. Hal ini akan mengakibatkan pikiran anda tidak konsentrasi karena mendengarkan sesuatu yang berbau maksiat atau yang mengganggu dalam proses menghafal. 

Sama halnya apabila anda melakukan maksiat hati. Hal ini akan sangat menghambat dan menyulitkan anda dalam menghafal ayat-ayat al-qur'an. Diantara penyakit hati yang dapat mengganggu  proses menghafal al-qur'an ialah dengki, hasud, berprasangka buruk terhadap orang lain, serta merasa takjub dan heran terhadap kehebatan dirinya. Inilah penyakit yang membuat hati kita menjadi kotor dan keruh. Oleh karena itu, bagi para penghafal al-qur'an sebaiknya membuang jauh-jauh penyakit-penyakit tersebut agar bisa menghafalkan lebih mudah. 

Hal tersebut sesuai dengan yang telah di jelaskan oleh Imam ibnu munadi dalam suatu kesempatan. Ia berkata: "sesungguhnya, menghafal memiliki beberapa sebab (yang membantu). Di antaranya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela. Hal itu dapat terwujud apabila seseorang mencegah dirinya dari keburukan, menghadap kepada allah swt. Dengan Ridha, memasang telinganya, dan pikirannya bersih dari ar-rain (sesuatu yang menutupi hati dari keburukan maksiat). "

Hal tersebut juga telah di tegaskan oleh allah swt., sebagaimana firman-nya  berikut:
كل بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون
"Sekali kali tidak(demikian). Sebenarnya, apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi bati mereka. "(Qs. Al-muthaffin 83:14).

Sesungguhnya, orang yang menjauhkan dirinya dari perbuatan yang bersinggungan dengan kemaksiatan, niscaya allah swt. Akan membuka kan pintu hati nya untuk selalau mengingat-nya, mencurahkan hidyah kepadanya memahi ayat-ayatnya, serta memudahkan menghafal dan mempelajari al-qur'an. Hal ini juga telah di tegaskan dalam Firman allah. Berikut:

والذين جهدوا فينا لنهد ينهم سبلنا وان الله لمع المحسنين
"Dan orang-orang yang berjihad untuk(mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan, sesungguhnya, allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-ankabut[29]:69).

Berkaitan dengan makna ayat tersebut, Imam ibnu katsir yang telah membawakan perkataan ibnu Abi hatim berkata, "orang yang melaksanakan semua hal yang ia ketahui, niscaya Allah swt Akan memberinya petunjuk terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui."

E. TIDAK BANYAK BERDOA.
Berdoa merupakan senjata umat islam. Sebagai umat islam, kita harus yakin bahwa tidak ada yang sia-sia  dari usaha berdoa, sekaligus yakin bahwa allah akan selalu mengabulkan, baik secara langsung, di tunda waktunya, atau diganti dengan yang lebih baik dari permintaan semula.

Bagi para penghafal Al-quran  apabila tidak berdoa kepada allah, maka ketika sedang menghadapi kesulitan dalam menghafal, allah tidak akan membantu nya sebab, iya tidak meminta kepadanya. Memperbanyak doa dan menyampaikan semua keluh kesah dan permintaan supaya di jauhkan dari kesulitan dalam menghafal al-qur'an merupakan salah satu sarana yang sangat tepat supaya mudah dalam menghafalkan al-qur'an.

Dengan berdoa, anda akan merasa slalu dekat dengan allah swt. Sesungguhnya, seseorang yang sedang dalam kesulitan hanya kepadanya lah tempat meminta. Dan, hanya dialah yang akan mengabulkan permintaan anda. Akan tetapi, jika anda jarang berdoa, bahkan tidak melakukannya sama sekali, maka ketika dalam kesulitan, allah tidak akan membantu anda. Sebab, anda tidak berdoa dan Meminta kepadanya agar di mudahkan dalam menghafal al-qur'an.

Adapun waktu yang tepat dalam berdoa, antara pada waktu sahur, usai shalat, dan sepuluh akhir bulan ramadan. Dan, lebih utama ketika anda sendiri dalam keheningan malam, saat dalam perjalan, selesai azan, ketika bebuka puasa. Dan lain-lain. Selain itu, ada berberapa  tempat yang mempercepat terkabulnya doa, misalnya di makkah dan madinah, dekat hajar aswad, ka'bah, raudhah ,masjid, dan lain-lain.

F. Tidak beriman dan bertakwa 
Untuk menghafal al-qur'an, anda harus beriman dan bertakwa kepada Allah melalui media shalat, melakukan semua perintahnya, dan menjauhi semua larangannya. Jika seorang penghafal al-qur'an tidak beriman dan bertaqwa kepada allah swt, maka kesulitan-kesulitan dalam menghafal kalamullah ini akan selalu mengadanya. Hatinya akan gelap dan keruh, serta hanya memikirkan duniawi tanpa memikirkan hubungan interaksi dengan allah swt.

Jika tidak beriman dan bertaqwa dengan sungguh-sungguh kepada allah swt. Tidak akan ada jaminan bahwa anda bisa menjalani proses menghafal al-qur'an dengan lancar, bahkan menyelesaikan. Anda akan hanya mengalami kesulitan-kesulitan dalam menghafal ayat-ayat Allah. Sebab, hati dan pikiran anda jauh dari allah, serta jauh dari hati dan pikiran yang jernih. Bila hati dan pikiran yang jernih dan dekat dengan allah, anda akan lebih mudah dalam menghafal ayat-ayat allah swt. Orang yang jauh dari allah, hati dan pikirannya akan terasa kosong, karena tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan rohaninya.

G. Berganti ganti mushaf al-quran 
Berganti ganti dalam menggunakan al-qur'an juga akan menyulitkan anda dalam proses menghafal dan mentaqrir al-qur'an, serta dapat melemahkan hafalan. Sebab setiap al-qur'an atau mushaf mempunyai  posisi ayat dan bentuk tulisan yang berbeda-beda. Tulisan ayat-ayat al-qur'an ada yang simple (praktis) dan ada yang tidak. hal ini bisa menyebabkan kesulitan untuk membayangkan posisi ayat. Akibatnya, dapat timbul keragu-raguan pada saat anda melanjutkan ayat yang berada di awal halaman selanjutnya setelah anda selesai membaca ayat yang berada di akhir halaman.

Oleh karena itu, anda disarankan untuk menggunakan hanya satu al-quran, sehingga tidak menyulitkan anda saat menghafal, terutama dalam mengulang ulang al-ur'an. Apabila anda menggunakan satu al-qur'an, anda akan paham letak ayat, halaman sebelum dan sesudahnya, serta bekas coretan coretan dari pensil atau stabilo untuk mengingat dan memindai ayat yang sebelumnya yang sulit dihafalkan.

Pada dasarnya, kendala atau problem dalam menghafalkan al-qur'an terbagi menjadi dua bagian, sebagai berikut:

1.muncul dari dalam diri penghafal 
Terkadang, problem dalam menghafalkan al-qur'an, juga timbul dari diri sang penghafal itu sendiri. 
Problem problem tersebut diantara lain ialah :
A. Tidak dapat merasakan kenikmatan al-qur'an ketika membaca dan menghafal, 
B. Terlalu malas, 
C. Mudah putus asa, 
D. Semangat dan keinginan nya melemah, dan 
E. Menghafal al-qur'an karena paksaan dari orang lain.

2.timbul dari luar diri penghafal
Selain mucul dari dalam diri penghafal, problem dalam penghafal al-qur'an juga banyak disebabkan dari luar diri nya, seperti :
A. Tidak mampu mengatur waktu dengan efektif, 
B.  Ada nya kemiripan ayat ayat yang satu dengan yang lain nya, sehingga sering menjebak, membingungkan ,dan membuat ragu, 
C.  Tidak sering mengulang ulang ayat yang sedang atau sudah di hafal, dan 
D.  Tidak adanya pembimbing atau guru ketika menghafal al-qur'an. 




By: Sholahudin (Kelas 3 MA) 
Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA TEAM) 
Read more...

Rabu, 25 Desember 2019

Dialog Santri dan Nasrani di Tanggal 25 Desember

0 komentar

Dialog Santri dan Nasrani di Tanggal 25 Desember

Santri : Bagaimana liburan-mu?
Nasrani : Baik, BTW kau tidak mengucapkan selamat Natal?
Santri : Tidak, Agama kami sangat menghargai Toleransi Antar Agama termasuk Agama-mu, Tapi masalah ini Agama Saya melarang-nya
Nasrani : Tapi kenapa?  Bukankah hanya sekedar kata-kata, teman muslim-ku yang lain mengucapkan-nya padaku
Santri : Mungkin mereka belum mengetahuinya
Nasrani : Hmmm...
Santri : Apakah kau bisa mengucapkan dua kalimat Syahadat?
Nasrani : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya... Itu mengganggu kepercayaan saya
Santri : Kenapa.? Bukankah hanya sekedar kata-kata.?
Nasrani : Baiklah saya mengerti Sekarang

By : Ahmad Hadid Zulfiqar (Kelas 3 Aliyah)
Read more...

Selasa, 24 Desember 2019

Contoh Khutbah Sholat Gerhana

0 komentar


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ، أَحْمَدُهُ – جلَّ شأنه – خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ، وَكلٌّ فِي فَلَكٍ يُسْبَحُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Di kesempatan yang sangat menakjubkan ini, mari kita lantunkan syukur kita kepada Allah ‘azza wajalla yang telah menciptakan siang dan malam, yang telah menciptakan matahari dan bulan, yang telah menciptakan tumbuhan dan bebatuan, yang telah menciptakan daratan dan lautan, yang telah menciptakan gunung-gunung dan jurang, yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini.
Dialah Allah yang Maha Esa. Dialah Allah yang Maha Perkasa. Dialah Allah ‘azza wajalla yang Maha Mencipta, Dialah Allah ‘azza wajalla Yang Maha Menghidupkan. Dialah Allah ‘azza wajalla yang Maha mematikan. Dialah Allah ‘azza wajalla yang Maha Menghidupkan untuk kedua kalinya.
Dialah Allah ‘azza wajalla yang telah mengatur seluruh pergerakan alam semesta ini dengan ketelitian yang sempurna. Tak ada cacat sedikit pun sebab Dialah Allah ‘azza wajalla yang Maha Sempurna. Sehingga seluruh benda-benda di jagat raya ini berada pada posisinya masing-masing dengan sangat serasi, selaras dan indah.

Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Pada kesempatan yang sangat langka ini, di mana Allah ‘azza wajalla menakdirkan terjadinya gerhana dengan durasi yang cukup lama, mari sejenak kita merenung mentadaburi ayat-ayat Allah ‘azza wajalla yang sangat mulia. Tiada satu makhluk pun di alam semesta ini yang mampu menandingi ayat-ayat Allah ‘azza wajalla.
Pada kesempatan yang sangat fenomenal ini, kami wasiatkan kepada diri kami dan juga kepada jamaah khutbah shalat gerhana sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah ‘azza wajalla. Keimanan dan ketakwaan baik dalam keadaan tersembunyi menyendiri, atau pun dalam keadaan tampak dan terbuka di hadapan khalayak manusia.
Sungguh, tiada yang lebih mulia bagi hamba-hamba Allah ‘azza wajalla kecuali hidup dalam keadaan beriman dan bertakwa, kecuali bernafas dalam keadaan beriman dan bertakwa.
Tanpa iman dan takwa, kita hanyalah seperti debu-debu beterbangan yang tiada guna. Tanpa iman dan takwa, kita hanyalah gumpalan daging dan tulang yang berjalan tanpa arah. Tanpa iman dan takwa, kita hanyalah menjadi manusia calon-calon penghuni neraka. Wal ‘iyadzu billah.
Maka, mari kita jaga keimanan dan ketakwaan yang telah tertancap dalam relung-relung sanubari kita dengan seluruh upaya kesungguhan dan pengorbanan kita.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (QS. Az-Zumar: 61)

Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Allah ‘azza wajalla telah menciptakan langit-langit dan bumi ini dalam tujuh hari. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dialah yang maha kuasa menutupkan malam pada siang dengan sangat cepat. Dialah yang menciptakan matahari yang bersinar, bulan yang bercahaya, dan bintang-bintang yang gemerlap. Seluruhnya tunduk kepada kuasa dan perintah-Nya.
Hanya Allah ‘azza wajalla lah yang Maha menciptakan. Hanya Allah ‘azza wajalla lah yang Maha memerintah. Semua itu adalah ayat-ayat Allah ‘azza wajalla yang sangat dahsyat dan menakjubkan.
Selain itu, ada tanda kekuasaan Allah ‘azza wajalla yang tak kalah menakjubkan. Yaitu adanya fenomena gerhana matahari dan gerhana bulan.

Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Sungguh, tersingkapnya sinar matahari dan bulan serta tertutupnya sinar keduanya adalah petunjuk yang nyata atas kuasa Allah ‘azza wajalla. Di mana Allah ‘azza wajalla pada peristiwa itu memberikan bukti kepada makhluknya bahwa tiada yang sanggup menciptakan fenomena seperti itu kecuali hanya Allah ‘azza wajalla saja.
Suatu ketika, di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadilah fenomena gerhana matahari. Melihat fenomena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju masjid kemudian mendirikan shalat gerhana bersama para sahabatnya. Setelah shalat selesai, beliau menyampaikan khutbah yang cukup menggetarkan jiwa,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang, jika kalian melihatnya (gerhana) maka laksanakanlah shalat.” (HR. Ibnu Majah No. 1253)
Beliau juga bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، فَإِذَا كَسَفَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah bagian dari ayat-ayat Allah yang dengan keduanya Dia menakuti hamba-hamba-Nya. Maka jika keduanya telah tampak maka bersegeralah untuk shalat.” (Al-Mustadrak ala ash-Shahihain, Al-Hakim, No. 1236, 1/481)

Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Hikmah terbesar dari adanya fenomena gerhana bulan atau gerhana matahari adalah sebagai ancaman dan peringatan untuk hamba-hamba Allah ‘azza wajalla dari segala bentuk tindakan buruk, tercela, dan penyimpangan dari ketaatan kepada Allah ‘azza wajalla.
Allah ‘azza wajalla menakut-nakuti dan memberi ancaman keras kepada kita dengan ancaman yang mudah dimengerti oleh anak kecil sampai orang dewasa, yang muda dan yang sudah tua, laki-laki dan perempuan, orang pelosok desa maupun orang kota, orang bodoh maupun orang pintar, orang tradisional maupun orang modern.
Allah ‘azza wajalla memperingatkan kita melalui kejadian alam ini bahwa segala hal itu adalah mudah bagi Allah ‘azza wajalla. Allah ‘azza wajalla tidak kesulitan untuk menurunkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya yang taat, demikian pula Allah ‘azza wajalla tak segan-segan untuk menimpakan azab dan siksaan bagi hamba-Nya yang maksiat.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS. Al-Isra’: 59)
Oleh karena itu, manakala telah tampak tanda-tanda adanya ancaman dari Allah ‘azza wajalla, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera menggalang umat untuk bersegera melaksanakan amal shalih, dengan memperbanyak doa dan zikir, shalat dan membebaskan budak, bersedekah dan bertaubat, hingga tampak kembali wajah-wajah manusia, dan berakhirnya gerhana bulan atau gerhana matahari.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)

Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Di antara peringatan yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menyampaikan khutbah shalat gerhana adalah,
يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ مَا مِن أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرً
Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hamba-Nya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Al-Bukhari No. 986)
Hadits ini menjelaskan bahwa di antara sebab terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan adalah merebaknya perbuatan dosa dan maksiat, banyaknya manusia yang sibuk pada urusan dunia dan lupa terhadap urusan akhirat, serta perbuatan zina yang begitu mudahnya kita temui.
Padahal, Allah ‘azza wajalla Allah ‘azza wajalla sudah memperingatkan manusia untuk tidak mendekati zina, namun manusia justru nekat melakukannya.

Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Sesungguhnya berbagai macam perbuatan dosa yang ada di sekeliling kita baik itu dosa kecil atau pun dosa besar, baik itu dosa pribadi ataupun berjamaah, baik itu dosa individu ataupun dosa bernegara, tidak diterapkannya syariat Allah ‘azza wajalla di muka bumi, adalah sebab rusaknya tatanan alam semesta ini.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

Jamaah khutbah shalat gerhana yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,
Maka, saksikanlah. Inilah fenomena gerhana yang tampak di hadapan kita. Gerhana yang kita saksikan dengan mata kepala masing-masing. Inilah kuasa Allah ‘azza wajalla. Inilah salah satu ayat di antara ayat-ayat kauniyah dari Allah ‘azza wajalla. Inilah tanda merebaknya dosa dan kemaksiatan. Inilah ancaman dan peringatan dari Allah ‘azza wajalla. Ambillah pelajaran darinya. Renungilah keberadaannya.
Maka, melalui mimbar khutbah shalat gerhana ini, marilah kita bertobat kepada Allah ‘azza wajalla dengan sebenar-benarnya tobat. Marilah kita memohon ampun kepada Allah ‘azza wajalla atas segala salah dan dosa kita, dosa yang tampak dan yang tersembunyi, dosa yang disengaja atau pun yang tak disengaja. Perbanyaklah menangis, kurangilah tertawa.
فَاعْتَبِرُوْا – يَا عِبَادَ اللهِ – وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أَيُّهَا النَاسُ، عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،
اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ
اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
 وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ 
Read more...

Minggu, 15 Desember 2019

Cara Mudah Menghafal Al-Qur'an

0 komentar

Al-Qur'an itu sangat mudah dihafalkan. Allah sendiri yang mengatakan hal tersebut. Tapi tentu ada caranya agar dimudahkan oleh Allah dalam menghafalnya. Berikut ini beberapa caranya:
1. Mengikhlaskan niat hanya karena Allah. Hendaknya ia menghafal Al-Qur'an karena ingin mendapatkan ridha Allah dan dimudahkan menjalankan ketaatan kepada Allah dan mencari ilmu. 

2. Menentukan beberapa banyak yang kita hafal di setiap harinya. Jangan terlalu memaksakan kehendak untuk menghafal sebanyak mungkin dalam 1 hari. Prinsipnya adalah "sedikit yang berkelanjutan itu lebih baik dari pada banyak yang pada akhirnya tidak berkelanjutan". Misalnya saja kita menentukan bahwa setiap hari akan menghafal 1/2 atau 1/3 halaman, lalu setelah itu setiap hari menghafal 1/3 atau 1/3 halaman secara terus menerus. Nah, ini jauh lebih baik dari pada langsung menghafal 10 halaman hari itu kemudian berhenti hingga 1 minggu atau lebih. 

3. Tentukan waktu untuk menghafal dan waktu untuk mengulangi hafalan. Lebih baik menghafal pada awal har; entah itu sebelum subuh atau sesudah shalat subuh. Kemudian mengulangi hafalan hari ini sekurang-kurangnya pada setiap waktu shalat yang tersisa (dzuhur, Ashar, Magrib, dan Isya). Akan semakin baik jika kita juga bisa mengulangi hafalan itu sambil berjalan atau melakukan aktifitas lain. 

4. Ingatlah, bahwa rahasia utama menghafal Al-Qur'an adalah mengulang. Semakin banyak mengulang, maka akan semakin Bagus. Lagi pula yang diulang adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang setiap 1 huruf bernilai 10 kebaikan! 

Karena itu, tidak mengherankan jika orang-orang yang berilmu terdahulu sangat dikenal dengan kesabaran mereka untuk mengulang dan mengulang apa yang akan atau telah dihafal. Ada yang mengulang hingga 70 kali sesuatu yang ingin ia hafalkan. 

5. Gunakan hanya satu Al-Qur'an saja. Jangan berganti-ganti Al-Qur'an, karena proses menghafal itu melibatkan Indra pandangan kita. Ketika kita menghafal, maka mata kita akan mengingat semua posisi ayat dan halaman yang kita hafalkan. Kalau kita berganti-ganti Al-Qur'an, maka ingatan kita akan kacau dalam mengingat dan membayangkan posisi halaman yang kita hafalkan. 

Al-Qur'an yang baik digunakan untuk menghafal adalah Al-Qur'an yang pada setiap halamannya dimulai dengan awal ayat baru dan diakhiri d ngan akhir sbuah ayat. 

6. Berusaha memahami makna terjemahan ayat-ayat yang dihafalkan. Akan jauh lebih baik jika ditambah dengan membaca tafsirnya untuk mengetahui mengapa ayat itu turun, kepada siapa, bagaimana kisahnya, dan apa saja kandungan yang terkandung di dalamnya. 

7. Cara terbaik untuk mengulangi hafalan Al-Qur'an adalah dengan mengamalkannya. Begitulah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam. 

8. Bangunlah disepertiga akhir malam untuk melaksanakan shalat tahajud. Tujuannya adalah untuk mengasah hati dan pikiran serta mengulangi apa yang dihafalkan dalam shalat tahajud. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan : "Apabila sang pemilik Al-Qur'an itu mengerjakan shalat diwaktu malam dan siang lalu membacanya, maka ia akan mengingatnya. Namun jika tidak, maka ia akan melupakannya. "

9. Jangan lupa sati hal; jangan pernah menghafal ayat tertentu dari Al-Qur'an samapai kita yakn bahwa bacaan kita terhadap ayat tersebut telah benar. Karena itu kita harus membacakan dulu kepada orang yang dapat meluruskan kekeliruan bacaan kita sebelum menghafalkannya. Jika salah membaca, lalu menghafalkan ayat itu dengan bacaan yang salah, maka hafalan yang terekam dalam hati dan pikiran kita juga salah.


10. Terakhir, ingatlah bahwa ayat-ayat Al-Qur'an itu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah itu tak akan diberikan kepada orang yang suka berbuat dosa dan maksiat. Cahaya Allah hanya akan diberikan kepada orang yang taat kepada Allah dan selalu menghindari maksiat kepada Allah. Imam al-Syafi'i mengatakan :"Aku pernah mengadu kepada guruku, tentang hafalanku yang buruk. Lalu beliau mengingatkan ku untuk menghindari dosa dan maksiat. Kemudian beliau mengatakan :"Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah itu tak akan diberikan kepada mereka yang suka berbuat maksiat kepada Allah. "

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA TEAM) 

Read more...

AL ISLAM CIPOCOK DAN ETIKET

0 komentar

Pondok Pesantren Modern Al-Islam Cipocok Jaya adalah Salah satu lembaga pendidikan Pesantren di Propinsi Banten  Indonesia yang sangat menekankan pelajaran etiket.

Pesantren Al-Islam Cipocok adalah pesantren Islam yang menerapkan kurikulum pendidikannya -- yang memakai istilah “100% agama, 100% umum”. Sistem pengajarannya klasikal setingkat MTs -MA dijalani selama enam tahun.

Nilai-nilai pendidikan ditanamkan selama 24 jam di bawah orkestrasi kewibawaan kiai dan para guru serta dilaksanakan dalam sebuah asrama. Menerapkan disiplin ketat, sehingga pesantren bisa efektif dalam mencapai tujuan pendidikan.

Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud terkristalilisasi dalam istilah Panca Jiwa, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, persaudaraan (ukhuwah diniyah), dan kebebasan. Nilai-nilai ini meresap dalam jiwa santri melalui interaksi antar santri-guru-kiai, rekayasa lingkungan, pengajaran, ceramah dan semua proses pendidikan.

Pelajaran ahlak – yang terdiri dari etika dan etiket – masuk ke dalam jiwa santri melalui pelajaran-pelajaran tidak langsung, ceramah, dan praktik hidup keseharian.

Etika yang mengacu ke moral misalnya ditanamkan melalui larangan pelanggaran susila dan larangan pencurian, dan penerapan sanksi ancaman pengusiran dari pondok bagi pelanggarnya.

Pelajaran ahlak yang tidak langsung, menelusup misal melalui pelajaran mahfuzat (hapalan) berupa kata-kata mutiara. Contoh yang popular, kata-kata mutiara “man jadda wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil).

Maka pelajaran etiket yang mengacu ke sopan santun ini sangat ditekankan di Al Islam. Indikasinya, pelajaran ini disampaikan oleh pemimpin pondok sendiri setiap menjelang libur pertengahan dan akhir tahun.

Ceramah tentang etiket ini sangat istimewa, karena disampaikan pimpinan secara langsung sejak berdirinya pesantren Al Islam.

Terkesan etiket lebih ditekankan daripada etika. Mengapa? Ada kemungkinan, karena etika yang menyoroti baik-buruknya perilaku dalam arti moral, misalnya mencuri, bisa diketahui secara common sense (akal sehat) dan pengajaran agama.

Sementara etiket yang menyoroti baik-buruknya perilaku dari sisi sopan santun, membutuhkan kepekaan perasaan yang lebih tinggi dan pengalaman. Etiket karena itu harus diajarkan.

Anak-anak generasi sekarang diduga banyak yang tidak mengerti definisi dan isi pelajaran etiket. Ini karena pelajaran etiket tidak diajarkan secara eksplisit di sekolah-sekolah.

Namun tidak berarti dalam keseharian mereka tidak beretiket sama sekali. Etiket-etiket umum pastilah mereka juga menerapkannya, misalnya berbusana yang sopan, menghormati guru, dan lain-lain.

Namun untuk etiket-etiket yang membutuhkan kepekaan perasaan yang lebih tajam, mereka harus diberitahu dan diajari melalui interaksi sosial di sekitar kehidupan pesantren.

Anak Jurnalis Ma'had Al-islam (AJMA TEAM) 
Read more...

Kamis, 12 Desember 2019

NIAT YANG IKHLAS

0 komentar
PONDOK PESANTREN MODERN AL-ISLAM CIPOCOK JAYA KOTA SERANG BANTEN



     Kita awali perjalanan kita dengan mempelajari tentang niat yang ikhlas. Mengapa?  Nah, kita harus memulai dengan niat yang ikhlas.

     Niat yang ikhlas itu adalah penentu utama apakah amal kita diterima Allah atau tidak. Semua perkataan dan perbuatan kita kalau ingin diterima oleh Allah, maka harus dikerjakan dengan niat yang ikhlas.

    Shalat kita tidak akan diterima Allah jika kita tidak mengerjakannya dengan niat yang ikhlas. Begitu juga puasa kita, meskipun kita sudah menahan lapar dan dahaga seharian tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala, jika kita melakuakannya tidak dengan niat yang ikhlas.
Doa-doa kita, tidak akan didengar dan dikabulkan oleh Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas.

    Sedekah-sedekah kita. Meskipun kita telah bersedekah, tapi jika tidak dengan niat yang ikhlas, semuanya tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala.

     Begitu juga dengan amal-amal kita yang lainnya, jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas tidak akan ada gunanya di mata Allah Ta'ala.

     Nah sekarang kita sudah terbayang betap pentingnya niat yang ikhlas dalam hidup kita? Dan pasti sudah tidak sabar untuk mengetahui niat yang ikhlas itu apa kan?

Niat yang Ikhlas itu Apa?
   Niat yang ikhlas itu adalah ketika kita mengerjakan sebuah amal kebaikan atau meninggalkan sebuah dosa hanya karena Allah dan mengharapkan balasan-Nya, bukan karena selain Allah atau mengharapkan balasan dari selain Allah.

     Contohnya bila kita menunaikan shalat, maka kita harus melakukannya dengan niat hanya karena Allah. Dan ingatlah bahwasanya hanya Allah yang dapat membalasnya. Bukan ayah, bunda, ustadz, bapak ibu guru atau siapa pun. Maka bila sekarang ini kita mengerjakan shalat masih karena ingin dapat pujian dan hadiah dari ayah dan bunda, atau karena takut dihukum oleh mereka, maka kita harus memperbaiki niat shalatnya terlebih dahulu.

    Mungkin pada mulanya terasa agak berat dan susah, tapi kalau kita terus dan terus mencobanya, In Sya Allah, Allah akan memudahkannya bagi kita dan akan selalu menjaga niat ikhlas kita.

Apa Saja Keutamaan Niat yang Ikhlas Itu?

1. Niat yang ikhlas adalah penentu diterimanya amal kita.
     Alkisah, ada seseorang pengembara menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju kampung halamannya. Panas terik matahari harus ia lalui. Dingin malam yang menusuk tulang harus ia hadapi. Ditambah lagi dengan membawa beban yang sangat berat di punggungnya. 

     Tapi pengembara itu tidak mengenal lelah. Ia terus melanjutkan perjalanannya dengan hati yang penuh kepuasan. Kepuasan orang yang rindu pulang ke negrinya. Apalagi ia merasa trlah membawa bekal yang lebih dari cukup untuk itu. Bekal itulah yang selama ini ia pikul sepanjang perjalanannya.
Akhirnya, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan tahun berganti tahun. Pengembara itu tibalah dikampung halamannya. Dengan wajah yang berseri, ia menurunkan bekal yang ia pikul sekian lama dalam perjalanan yang panjang itu. "Sekarang telah tiba saatnya untuk membuka bekal ini". Pikirannya dalam hati.

     Dan ia pun membukanya. Tapi ia sungguh terkejut. Wajahnya menjadi sangat pucat. Ternyata selama ini, apa yang ia anggap sebagai bekal tidak lebih dari sekarung pasir yang tak berguna. Ia benar-benar telah salah menduga! Sekarang ia hanya bisa menyesal sejadi-jadinya. Namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.

     Begitulah gambaran tentang orang yang tidak ikhlas dalam beramal. Dia tidak pernah memeriksa dan memperbaiki niat dalam beramal, dia menyangka bahwa dia telah mengumpulkan bekal yang sangat banyak untuk hari akhir.  Dia merasa telah banyak sholat, puasa, zakat, berhaji, sedekah, dan lainnya. Tapi ketika Allah membuka semua amalannya, tidak satupun yang bernilai dan diterima oleh Allah Ta'ala. Tidak ada satu pun yang dapat dijadikan bekal. Jadilah dia menyesal, namun penyesalan itu tak berguna lagi. Semuanya sia-sia belaka. Hingga amal-amal yang dia lakukan akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya di sisi Allah.

2. Niat yang ikhlas adalah penentu seberapa besar pahala yang kita peroleh.
     Hari jum'at saat ahmad dan hakim bersama paman doni lagi menunaikan ibadah shalat jumat berjamaah ada pengumuman bahwasanya pada hari minggu akan diadakan kerja bakti untuk membersihkan masjid. Kerja bakti ini dilakukan karena pekarangan masjid sudah mulai tumbuh rumput ilalang yang tinggi-tinggi sehingga menghilangkan kesan bersih pada masjid, hal ini rutin dilakukan oleh warga selingkungan tempat masjid berdiri sebulan sekali dan seperti biasa ahmad dan hakim tidak pernah ketinggalan untuk ikut serta kerja bakti tersebut. "ahmad kita harus ikut kerja bakti hari minggu nanti" kata hakim. "pastibanyak kue-kue yang lezat sekali yang diantar ibu-ibu buat kita yang bekerja nanti" lanjut Hakim. "Hmmm... Aku akan menghabiskan banyak kue nantinya, aku nngak sabar untuk kerja bakti hari minggu nanti" pikir Hakim. "hakim kamu nggak bolrh begitu"kata Ahmad. "kita kerja bakti bukan karena disana nanti banyak kuenya, tapi kita kerja bakti niat karena Allah untuk membersihkan rumah-Nya, dan In Sya Allah kita akan mendapat pahala karenanya" lanjut Ahmad. "betul yang dikatakan ahmad, Hakim"ujar paman doni. "Nabi kita bersabda setiap amal-amal itu tidak lain bergantung pada hatinya. Dan sungguh setiap orang itu hanya mendapatkan (balasan) seauai dengan apa yang ia niatkan, jadi kamu harus memperbaiki niat kamu hakim"lanjut paman doni. Baik paman". Kata Hakim.

3. Niat itu tempatnya di hati, dan hati adalah pusat utama perhatian Allah kepada kita
     Manusia setidaknya terdiri dari dua unsur: unsur lahiriah (fisik) dan unsur batiniah (hati). Fisik menunjukan bagaimana penampilan kita dihadapan orang lain. Apakah kita gagah atau cantik, tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, cacat atau sempurna; semua itu dapat dilihat dari prnampilan fisik luar kita.

      Penampilan luar seperti ini bisa dibuat-buat. Orang yang sebenarnya biasa-biasa saja bisa menjadi kelihatan gagah dan cantik jika berhias. Tapi inti kehidupan seorang manusia ada pada unsur batiniahnya, ada pada hatinya. Manusia yang fisiknya sempurna bisa akan tampak buruk jika hatinya buruk. Sebaliknya, manusia yang secara fisik banyak memiliki kekurangan akan menjadi mulia jika ia mempunyai hati yang mulia.

      Dan mulia-tidaknya hati kita sangat ditentukan oleh niat kita. Niat yang baik, ikhlas dan tulus akan melahirkan hati yang baik, ikhlas dan tulus. Tapi niat yang buruk akan melahirkan hati yang buruk pula. Allah tidak melihat kepada fisik jasmani dan bentuk rupa kita, namun ia akan melihat hati-hati kita. Itulah sebabnya, penilaian Allah Ta'ala terhadap diri kita bermula dari hati kita.

     Jadi tidak terlalu penting apakah kita cakep atau tidak, keren atau tidak, kaya atau tidak; karena yang paling penting adalah dicintai Allah atau tidak. Dan syarat paling utama dicintai Allah adalah menjaga niat yang ikhlas.

     Bila kita memiliki perhatian yang sangat besar terhadap penampilan fisik, maka seharusnya perhatian terhadap prnampilan hati lebih besar dari pada itu.

     Bila kita rela mengeluarkan uang banyak untuk mempercantik prnampilan fisik, maka kerelaan untuk mengeluarkan uang demi mempercantik hati tentu haruslah jauh lebih besar dari pada itu semua. Karena, Allah tidak akan memperhitungkan bagaimana penampilan fisik kita. Allah hanya akan melihat bagaimana hati kita. Allah akan memperhitungkan bagaimana niat kita.

4. Dengan selalu menjaga niat yang ikhlas, pahala tetap mengalir meski kita berhalangan.
     Kalau kita sudah terbiasa beramal shaleh dengan niat yang ikhlas, maka suati ketika jika kita berhalangan mengerjakannya, In Sya Allah pahalanya akan tetap mengalir.
Misalnya kita sudah terbiasa mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Lalu tiba-tiba kita sakit sehingga tidak bisa ke masjid. Sebesarnya dalam hati, kita sangat ingin hadir di masjid, tapi kita ada halangan karena sakit tersebut. Dalam keadaan demikian, maka In Sya Allah kita akan tetap mendapatkan pahala shalat berjamaah di masjid. Kenapa bisa demikia? Penyebabnya adalah karena dalam hati, kita memiliki niat yang kuat untuk mengerjakan shalat berjamaah di masjid.

Coba kita baca kisah berikut ini:
     Dahulu di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam terjadi sebuah pertempuran yang bernama perang tabuk. Banyak sahabat Nabi yang berduyun-duyun ikut serta di dalamnya.
Namun. Ternyata ada beberapa sahabat yang tidak bisa ikut serta dalam pertempuran tersebut. Sebagian mereka sakit, dan juga ada yang sudah tua dan tidak mampu lagi untuk ikut serta. Tapi di lubuk hati mereka, merwka sangat ingin ikut bersama Nabi. Hati mereka sedih karenanya. Mata mereka menangis memikirkan itu.

     Namun Allah maha luas Rahmat-Nya, sepulangnya dari medan pertempuran tersebut, di tengah perjalanan Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan kepada para sahabat "sesungguhnya ada sekelompok orang yang tidak bisa ikut serta dalam pertempuran ini, tapi merwka tetap bersama dengan kita, hanya saja mereka terhalang untuk menyertai kita" maksud Nabi mengatakan "....mereka bersama kita... " adalah mereka mendapat pahala yang sama dengan mereka yang ikut serta bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Ini trntu saja menjadi kabar gembirabagi mereka yang tidak bisa ikut serta tersebut.

     Bagaimana? Asyik kan? Kalau kita selalu berniat ikhlas? Tidak ikut bertempur, tapi dapat pahala yang sama dengan mereka yang ikut. Tapi harus ingat syaratnya: kita tidak bisa ikut mengerjakannya namun hati kita sebenarnya sangat ingin mengerjakannya.

5. Niat yang baik dan ikhlas dicatat, niat yang jahat diabaikan
     Suati hari Ahmad berniat untuk menyedahkan uang jajan yang selama ini dia sisihkan. Dia benar-benar besemangat untuk menyedahkan sebagian uang jajannya itu karena dia tahu dia akan mendapatkan pahala dari Allah karena bersedekah.

     Tapi hari itu setelah membayar ongkos dan turun dari mobil angkutan umum, dia merogoh kantong bajunya di mana dia menyimpan uang jajannya. Dia terkejut. Kantong itu kosong! Hati Ahmad tiba-tiba menjadi sangat sedih. "Padahal hari iniaku sudah meniatkan sebagian uang jajan itu unyuk sedekah," ujarnya agak sedikit terisak.

      Nah, untuk si Ahmad kita sampaikan kabar gembira ini: In Sya Allah diatetap akan mendapatkan pahala sedekahnya, karena dia sudah berniat melakukan sebuah hari ini, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda" siapa yang berniat melakukan kebaikan namun belum bisa melakukannya, Allah akan mencatatnya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna. Dan jika ia berniat melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allahakan mencatatnya sebagai 10 kebaikan hingga 700 kalilipat, bahkan berkali-kali lipat dari itu".

Coba kita simak kisah yang lain berikut ini...
     Seorang anak bernama Firman hari itu berniat mengerjai temen sekelasnya yang bernama utsman. Dia telah menyiapkan suatu cara untuk mengganggu temannya itu. "Aku akan mengerjai dia setelah pulang sekolah! " katanya sambil tersenyum.

     Namun oada jam pelajaran tetakhir, pak guru di kelas memberikan penjelasan tentang bahaya berbuat jahat kepada sesama manusia. Pak guru menjrlaskan "orang yang sewaktu hidup di dunia banyak melakukan kebaikan, tapi di saat yang sama diajuga sering mengganggu dan berbuat jahat pada orang lain. Maka kelak di akhirat, semua kebaikan yang dia miliki diberikan kepada orang-orang yang diganggu atau yang oernah dijahatinya. Kalau ternyata belum cukup, maka dosa orang yang diganggu dan dijahatinya tersebut akan dipikulkan kepadanya". Anak-anak terdiam mendengarnya. Termasuk Firman.

     "Nah, siapa diantara kalian kalian ingin seperti itu?," tanyak pak guru. Semua anak semakin terdiam. Terlebih-lebih si Firman. Dia selama ini berpikir bahwa jika dilakukan sekedar iseng tidak akan sampai berakibat seperti itu. Akhirnyadia berkata"sudahlah,mulai hari ini aku akan berhenti untuk mengisengi teman-temanku, " tekadnya dalam hati.

     Tapi apakah si Firman dianggap telah berdosa karena berniat jahat seperti itu? Disinilah bukti kasih sayang Allah kepada kita. Bila kita sekedar berniat melakukan sebuah kejahatan, maka itu belumlah dicatat sebagai sebuah dosa. Ia akan dicatat sebagai dosa bila kita telah melakukannya. Bahkan kita berniat melakukan kejahatn, lalu kita sadar dan mengurungkan niat, justru akan menjadi sebuah kebaikan di sisi Allah. Karena Nabi Shallalahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda "barang siapa yang berniat melakukan keburukan namun tidak jadi mengerjakannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai sebuah kebaikan. Namun jika berniat keburukanlalu mengerjakannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu keburukan. "

     Luar biasa bukan! Kalau kita selalu punya niat yang baik dan ikhlas, kita mendapatkan kebaikan. Kalau kita mengurung niat untuk melakukan kejahatan atau dosa, maka kita juga akan mendapatkan suatu kebaikan.

Apa Manfaat Niat yang Ikhlas Bagi Kita?
1. Niat yang ikhlas adalah penentu utama diterimanya semua amal kita di sisi Allah.
2. Seberapa besar pahala yang diberikan Allah pada kita sangat bergantung pada seberapa besar keikhlasan kita dalam beramal.
3. Allah tidak peduli kita ganteng dan cantik atau keren atau tidak, banyak uang atau tidak. Allah hanya peduli: kita ikhlas atau tidak.
4. Kita akan tetap mendapatkan pahala meski kita berhalangan melakukan kebaikan, selama kita memang berniat mengerjakannya.
5. Sebaliknya, jika kita berniat melakukan keburukan, lalu kita mengurungkan niat, maka kita akan mendapatkan satu kebaikan di sisi Allah.





by: Jahudi (Siswa kelas 4 MMI)
#AJMATEAM
Read more...

KEDUDUKAN ILMU DALAM ISLAM

0 komentar


      Ilmu dalam islam memiliki kedudukan yang sangat baik. Ayat Al-Quran pertama yang diturunkan Allah Ta'ala kepada Nabi kita, Muhammad Shallahu'Alaihiwasallam adalah Iqra'. Yang berarti: "Bacalah! " perintah membaca jelas sekali adalah perintah untuk belajar dan menuntut ilmu. Dan memang Allah memang menyiapkan begitu banyak hal yang harus kita pelajari.

     Ibadah dalam islam adalah ibadah yang dibangun di atas pengetahuan ilmu yang benar. Kita tidak bisa seenaknya beribadah tanpa ilmu yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Misalnya saja, kita berpikir wah... Sebaiknya sholat subuh yang tadinya 2 rakaat kita jadikan saja 10 rakaat supaya lebih banyak pahalanya. Nah, di situ kalian harus bertanya atau ditanya: apakah ada tuntunan ilmunya dari Allah serta Rosul-Nya menambah jumlah rakaat shalat subuh menjadi 10 rakaat?

    Karena itu, kita harus memiliki landasan ilmu yang benar terkait dengan pengamalan agama kita ini, dan juga memiliki landasan ilmu yang cukup untuk menjadi pegangan hidup kita di dunia ini dalam mencari rezki dan mempertahankan hidup kita.

Keutamaan Belajar dan Menuntut Ilmu
  Dahulu para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam sangat bersemangat untuk belajar dan menununtut ilmu. Mereka bersemangat karena mengetahui betapa banyak dan besarnya keutamaan dan balasan yang disiapkan Allah untuk hamba-hamba-nya yang sungguh-sungguh belajar dan menuntut ilmu.

Salah satu kisahnya adalah sebagai berikut:
    Dahulu hidup seorang sahabat bernama Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu anhu. Sahabat ini memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mempelajari apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

   Suatu ketika, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah tiada, sahabat Jabir bin 'Abdillah ini mendengar berita bahwa ada sebuah hadits Nabi yang belum pernah ia dengarkan, namun dicatat dan dihafal dngan baik oleh seorang sahabat lain yang telah lama pindah ke kota Syam.

   Setelah berpikir agak lama, Jabir bin 'Abdillah pun memutuskan untuk mengunjungi sahabat tersebut di kota Syam. "Aku harus mengunjunginya secepat mungkin untuk mendengarkan hadits itu, " demikianlah tekad Jabir bin 'Abdillah radiyallahu anhu.

   Bayangkan, demi mendengarkan satu hadits saja, sahabat Jabir bin 'Abdillah rela menempuh perjalanan yang sangat jauh dari kota Madinah menuju kota Syam. Konon perjalanan itu menghabiskan waktu 1 bulan lamanya.

   Setibanya di kota Syam, Jabir bin 'Abdillah segera mencari rumah sahabat tersebut. Dan setelah bertemu serta mendengarkan hadits yang ia inginkan tersebut,  Jabir bin 'Abdillah pun tidak menunggu lama. Ia segera menyiapkan perjalanan pulangnya kembali ke kota Madinah.

   Kisah semacam ini sangat banyak kita temukan dalam buku-buku sejarah. Sejak zaman para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga zaman-zaman berikutnya menunjukan betapa besarnya semangat mereka untuk menuntut ilmu. Bahkan meski harus menempuh perjalanan berbulan-bulan lamanya.

   Kalau kita membaca kisah-kisah hidup mereka, kita akan melihat betapa mereka mengorbankan apa saja untuk datang menuntut ilmu.

Sekarang kita akan bahas apa saja keutamaan belajar dan menuntut ilmu itu...

Apa Saja Keutamaan Belajar dan Menuntut Ilmu Itu?

1. Belajar dan menuntut ilmu itu adalah jalan menuju surga
   Alkisah, ada seseorang bernama Budi. Ia seorang muslim. Dan ia baru saja mempelajari bahwa jika ia ingin selamat di dunia dan akhirat serta masuk ke dalam surganya Allah, salah satu kewajiban yang harus ia kerjakan adalah shalat wajib lima waktu. Maka tanpa banyak bertanya dan mencari tahu lagi, ia segera bertekad untuk mulai mengerjakan shalat lima waktu sejak saat itu.

  Ketika matahari terbit jam 7 pagi, ia bangun. Ia kemudian menyikat gigi dan membersihkan wajahnya. Tidak lama setelah itu ia pun mengerjakan shalat sebanyak 3 rakaat. "Alhamdulillah, pagi ini aku sudah mengerjakan shalat subuh ku yang pertama, " ujarnya sambil tersenyum.

   Setelah sarapan pagi, ia kemudian mandi lalu berangkat ke tempat kerjanya. Tepat jam 9 pagi, ia kembali mencuci wajahnya lalu kemudian mengerjakan shalat keduanya sebanyak 3 rakaat lagi. Dan setelah selesai, ia mengatakan:"Alhamdulillah, pagi ini aku telah menyelesaikan shalat dzuhurku."

   Demikianlah cara si Budi mengerjakan shalat-shalatnya. Coba perhatikan, ada banyak kesalahan yang telah dia dilakukan dalam ibadah shalatnya. Cara berwudhunya tidak sempurna, caranya menetapkan waktu shalatnya juga salah. Apalagi shalat yang dia lakukan, semuanya bertentangan dengan apa yang dituntunkan oleh Rosulullah shallallahu alaihi wasallam.

   Dan Budi tidak pernah merasa perlu untuk bertanya, atau belajar lebih jauh tentang apa yang seharusnya ia lakukan dalam shalatnya. Ia tidak pernah berusaha untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwudhu dan mengerjakan shalatnya.

   Apakah dengan sikap seperti itu, Budi dapat memenuhi impiannya untuk meraih surga Allah? Tentu saja tidak. Padahal kita baru berbicara tentang satu jalan yang dapat menghantarkan ke surga. Kita belum melihat bagaimana si Budi melakukan ibadah wajib lainnya.

  Karena itu, smakin tekunseorang muslim menuntut ilmu, semakin terang dan jelaslah baginya berbagai jalan yang kelak akan memudahkannya untuk masuk ke dalam surga Allah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mengatakan "... Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu selalu menolong saudaranya. Dan barang siapa yang menempuh suatu perjalanan (dimana) ia mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga... "

  "Menempuh perjalanan"disini memiliki makna yang sangat luas. Misalnya bila kalian mandi, bersiap-siap dan kemudian berangkat ke sekolah, majlis ta'lim, itu artinya kalian telah melakukan hal-hal yang akan memudahkan kalian untuk masuk ke surga jika kalian berwudhu lalu berangkat ke masjid untuk ikut duduk mendengarkan pengajian, atau mendengarkan ceramah para ustadz di televisi dan radio, maka itu artinya kalian sedang mengerjakan sesuatu yang nanti akan memudahkan kalian masuk surga.

2. Dinaungi para malaikat dan mendapatkan Rahmat dari Allah.
   Semua tempat yang digunakan untuk mempelajari dan menuntut ilmu, akan menjadi tempat yang sangat disukai oleh Allah dan Allah akan segera menurunkan rahmat-nya, kita akan diliputi ketenangan, dan disitulah para malaikat akan berkumpul. Mereka akan menaungi tempat itu bersama dengan semua orang yang duduk di sana dengan sayap-sayap mereka.

   Jadi mulai sekarang tidak ada alasan bagi kita untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, kita harus rajin ke sekolah, majlis ta'lim karena bila kita belajar dan menuntut ilmu, maka kita akan mendapatkan sekurang-kurangnya 3 keutamaan:
a. Kita akan dinaungi para malaikat
b. Ketenangan akan turun kepada kita
b. Kita akan diliputi Rahmat Allah
3. Kalian akan dihormati oleh para malaikat

   Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang sngat luar biasa. Mereka diciptakan oleh Allah dari cahaya. Allah Ta'ala menciptakan mereka untuk selalu taat dan patuh kepada semua perintah Allah. Karena itu, masing-masing malaikat memiliki tugas yang khas. Ada yang bertugas menyampaikan Wahyu. Ada yang bertugas mencatat amalan manusia. Bahkan ada yang diperintahkan hanya sujud saja kepada Allah. Mereka tidak mengerjakan apa-apa hingga hari kiamat kecuali sujud kepada-Nya.

  Lihat betapa mulianya makhluk bernama malaikat itu, bukan? Tapi sekarang bayangkanlah jika makhluk-makhluk mulia itu justru menghormati kita. Mereka akan menghormati kita hingga merendahkan sayap-sayap mereka kepada kita. Semua itu mereka lakukan karena mereka meridhai dan mencintai ketekunan kita serta menyukai kehadiran kita dalam belajar dan menuntut ilmu.

  Sesungguhnya betapa mulianya kita manusia, jika para malaikat saja telah merendahkan sayap-syapnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kesungguhan kita dalam menuntut ilmu.

4. Kita akan menjadi pewaris para nabi dan rasul
   Para nabi dan rosul adalah manusia paling mulia di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang menyamai kemuliaan para nabi dan rosul. Mereka adalah manusia pilihan Allah yang ditugaskan untuk membawa dan menyampaikan pesan dari Allah yaitu mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah.

   Dalam sejarahnya, hanya sedikit dari para nabi dan rosul yang dikaruniai kekayaan oleh Allah. Kebanyakan dari mereka adalah manusia-manusia yang hidup sederhana. Coba kalian baca bagaimana kehidupan Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka semua adalah manusia yang hidup dalam segala kekurangan dan keterbatasan.

   Contoh yang paling jelas adalah nabi kita, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Kehidupan beliau sangatlah sederhana, bahkan sangat kekurangan. Bukan berarti bahwa beliau tidak mampu untuk menjadi orang yang kaya-raya. Jangan lupa, beliau adalah seorang pedagang yang sangat sukses sebelum diutus sebagai rasulullah. Beliau memang sengaja memilih kehidupan yang sederhana di dunia ini, namun mendapatkan nikmat berlimpah ruah di akhirat kelak.

   Itulah sebabnya, para nabi dan rasul tidak pernah mewariskan harta dan kekayaan kepada umatnya. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu yang bermanfaat yang mereka terima dari Allah. Dan ilmu ini hanya akan diwarisi oleh mereka yang memiliki kesungguhan dan ketekunan hati dalam mencari, mempelajari dan kelak mengajarkannya kepada sesama. Siapa pun itu dan dari keturunan manapun ia, maka ia tidak mempunyai jaminan apa-apa untuk dapat mewarisi warisan para nabi dan rasul itu. Kecuali jika ia bersungguh-sungguh belajar dan menuntut ilmu serta mengamalkan apa yang ia pelajari tersebut.

Apa Manfaat Belajar dan Menuntut Ilmu bagi Kita?
1. Dengan belajar dan menuntut ilmu berarti kita telah membangun jalan menuju surga Allah
2. Jika kita belajar dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, Allah akan menurunkan rahmat-nya dan para malaikat-nya akan mencintai kita.
3. Dengan belajar dan menuntut ilmu berarti kita akan menjadi pewaris para nabi dan rasul.

by : Akimudin (Siswa Kelas 5 MMI)
#AJMATEAM

Read more...