Pondok Pesantren Modern Al-Islam Cipocok Jaya adalah Salah satu lembaga pendidikan Pesantren di Propinsi Banten Indonesia yang sangat menekankan pelajaran etiket.
Pesantren Al-Islam Cipocok adalah pesantren Islam yang menerapkan kurikulum pendidikannya -- yang memakai istilah “100% agama, 100% umum”. Sistem pengajarannya klasikal setingkat MTs -MA dijalani selama enam tahun.
Nilai-nilai pendidikan ditanamkan selama 24 jam di bawah orkestrasi kewibawaan kiai dan para guru serta dilaksanakan dalam sebuah asrama. Menerapkan disiplin ketat, sehingga pesantren bisa efektif dalam mencapai tujuan pendidikan.
Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud terkristalilisasi dalam istilah Panca Jiwa, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, persaudaraan (ukhuwah diniyah), dan kebebasan. Nilai-nilai ini meresap dalam jiwa santri melalui interaksi antar santri-guru-kiai, rekayasa lingkungan, pengajaran, ceramah dan semua proses pendidikan.
Pelajaran ahlak – yang terdiri dari etika dan etiket – masuk ke dalam jiwa santri melalui pelajaran-pelajaran tidak langsung, ceramah, dan praktik hidup keseharian.
Etika yang mengacu ke moral misalnya ditanamkan melalui larangan pelanggaran susila dan larangan pencurian, dan penerapan sanksi ancaman pengusiran dari pondok bagi pelanggarnya.
Pelajaran ahlak yang tidak langsung, menelusup misal melalui pelajaran mahfuzat (hapalan) berupa kata-kata mutiara. Contoh yang popular, kata-kata mutiara “man jadda wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil).
Maka pelajaran etiket yang mengacu ke sopan santun ini sangat ditekankan di Al Islam. Indikasinya, pelajaran ini disampaikan oleh pemimpin pondok sendiri setiap menjelang libur pertengahan dan akhir tahun.
Ceramah tentang etiket ini sangat istimewa, karena disampaikan pimpinan secara langsung sejak berdirinya pesantren Al Islam.
Terkesan etiket lebih ditekankan daripada etika. Mengapa? Ada kemungkinan, karena etika yang menyoroti baik-buruknya perilaku dalam arti moral, misalnya mencuri, bisa diketahui secara common sense (akal sehat) dan pengajaran agama.
Sementara etiket yang menyoroti baik-buruknya perilaku dari sisi sopan santun, membutuhkan kepekaan perasaan yang lebih tinggi dan pengalaman. Etiket karena itu harus diajarkan.
Anak-anak generasi sekarang diduga banyak yang tidak mengerti definisi dan isi pelajaran etiket. Ini karena pelajaran etiket tidak diajarkan secara eksplisit di sekolah-sekolah.
Namun tidak berarti dalam keseharian mereka tidak beretiket sama sekali. Etiket-etiket umum pastilah mereka juga menerapkannya, misalnya berbusana yang sopan, menghormati guru, dan lain-lain.
Namun untuk etiket-etiket yang membutuhkan kepekaan perasaan yang lebih tajam, mereka harus diberitahu dan diajari melalui interaksi sosial di sekitar kehidupan pesantren.
Anak Jurnalis Ma'had Al-islam (AJMA TEAM)



0 komentar:
Posting Komentar