Banner 468 x 60px

 

Kamis, 12 Desember 2019

KEDUDUKAN ILMU DALAM ISLAM

0 komentar


      Ilmu dalam islam memiliki kedudukan yang sangat baik. Ayat Al-Quran pertama yang diturunkan Allah Ta'ala kepada Nabi kita, Muhammad Shallahu'Alaihiwasallam adalah Iqra'. Yang berarti: "Bacalah! " perintah membaca jelas sekali adalah perintah untuk belajar dan menuntut ilmu. Dan memang Allah memang menyiapkan begitu banyak hal yang harus kita pelajari.

     Ibadah dalam islam adalah ibadah yang dibangun di atas pengetahuan ilmu yang benar. Kita tidak bisa seenaknya beribadah tanpa ilmu yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Misalnya saja, kita berpikir wah... Sebaiknya sholat subuh yang tadinya 2 rakaat kita jadikan saja 10 rakaat supaya lebih banyak pahalanya. Nah, di situ kalian harus bertanya atau ditanya: apakah ada tuntunan ilmunya dari Allah serta Rosul-Nya menambah jumlah rakaat shalat subuh menjadi 10 rakaat?

    Karena itu, kita harus memiliki landasan ilmu yang benar terkait dengan pengamalan agama kita ini, dan juga memiliki landasan ilmu yang cukup untuk menjadi pegangan hidup kita di dunia ini dalam mencari rezki dan mempertahankan hidup kita.

Keutamaan Belajar dan Menuntut Ilmu
  Dahulu para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam sangat bersemangat untuk belajar dan menununtut ilmu. Mereka bersemangat karena mengetahui betapa banyak dan besarnya keutamaan dan balasan yang disiapkan Allah untuk hamba-hamba-nya yang sungguh-sungguh belajar dan menuntut ilmu.

Salah satu kisahnya adalah sebagai berikut:
    Dahulu hidup seorang sahabat bernama Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu anhu. Sahabat ini memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mempelajari apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

   Suatu ketika, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah tiada, sahabat Jabir bin 'Abdillah ini mendengar berita bahwa ada sebuah hadits Nabi yang belum pernah ia dengarkan, namun dicatat dan dihafal dngan baik oleh seorang sahabat lain yang telah lama pindah ke kota Syam.

   Setelah berpikir agak lama, Jabir bin 'Abdillah pun memutuskan untuk mengunjungi sahabat tersebut di kota Syam. "Aku harus mengunjunginya secepat mungkin untuk mendengarkan hadits itu, " demikianlah tekad Jabir bin 'Abdillah radiyallahu anhu.

   Bayangkan, demi mendengarkan satu hadits saja, sahabat Jabir bin 'Abdillah rela menempuh perjalanan yang sangat jauh dari kota Madinah menuju kota Syam. Konon perjalanan itu menghabiskan waktu 1 bulan lamanya.

   Setibanya di kota Syam, Jabir bin 'Abdillah segera mencari rumah sahabat tersebut. Dan setelah bertemu serta mendengarkan hadits yang ia inginkan tersebut,  Jabir bin 'Abdillah pun tidak menunggu lama. Ia segera menyiapkan perjalanan pulangnya kembali ke kota Madinah.

   Kisah semacam ini sangat banyak kita temukan dalam buku-buku sejarah. Sejak zaman para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga zaman-zaman berikutnya menunjukan betapa besarnya semangat mereka untuk menuntut ilmu. Bahkan meski harus menempuh perjalanan berbulan-bulan lamanya.

   Kalau kita membaca kisah-kisah hidup mereka, kita akan melihat betapa mereka mengorbankan apa saja untuk datang menuntut ilmu.

Sekarang kita akan bahas apa saja keutamaan belajar dan menuntut ilmu itu...

Apa Saja Keutamaan Belajar dan Menuntut Ilmu Itu?

1. Belajar dan menuntut ilmu itu adalah jalan menuju surga
   Alkisah, ada seseorang bernama Budi. Ia seorang muslim. Dan ia baru saja mempelajari bahwa jika ia ingin selamat di dunia dan akhirat serta masuk ke dalam surganya Allah, salah satu kewajiban yang harus ia kerjakan adalah shalat wajib lima waktu. Maka tanpa banyak bertanya dan mencari tahu lagi, ia segera bertekad untuk mulai mengerjakan shalat lima waktu sejak saat itu.

  Ketika matahari terbit jam 7 pagi, ia bangun. Ia kemudian menyikat gigi dan membersihkan wajahnya. Tidak lama setelah itu ia pun mengerjakan shalat sebanyak 3 rakaat. "Alhamdulillah, pagi ini aku sudah mengerjakan shalat subuh ku yang pertama, " ujarnya sambil tersenyum.

   Setelah sarapan pagi, ia kemudian mandi lalu berangkat ke tempat kerjanya. Tepat jam 9 pagi, ia kembali mencuci wajahnya lalu kemudian mengerjakan shalat keduanya sebanyak 3 rakaat lagi. Dan setelah selesai, ia mengatakan:"Alhamdulillah, pagi ini aku telah menyelesaikan shalat dzuhurku."

   Demikianlah cara si Budi mengerjakan shalat-shalatnya. Coba perhatikan, ada banyak kesalahan yang telah dia dilakukan dalam ibadah shalatnya. Cara berwudhunya tidak sempurna, caranya menetapkan waktu shalatnya juga salah. Apalagi shalat yang dia lakukan, semuanya bertentangan dengan apa yang dituntunkan oleh Rosulullah shallallahu alaihi wasallam.

   Dan Budi tidak pernah merasa perlu untuk bertanya, atau belajar lebih jauh tentang apa yang seharusnya ia lakukan dalam shalatnya. Ia tidak pernah berusaha untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwudhu dan mengerjakan shalatnya.

   Apakah dengan sikap seperti itu, Budi dapat memenuhi impiannya untuk meraih surga Allah? Tentu saja tidak. Padahal kita baru berbicara tentang satu jalan yang dapat menghantarkan ke surga. Kita belum melihat bagaimana si Budi melakukan ibadah wajib lainnya.

  Karena itu, smakin tekunseorang muslim menuntut ilmu, semakin terang dan jelaslah baginya berbagai jalan yang kelak akan memudahkannya untuk masuk ke dalam surga Allah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mengatakan "... Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu selalu menolong saudaranya. Dan barang siapa yang menempuh suatu perjalanan (dimana) ia mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga... "

  "Menempuh perjalanan"disini memiliki makna yang sangat luas. Misalnya bila kalian mandi, bersiap-siap dan kemudian berangkat ke sekolah, majlis ta'lim, itu artinya kalian telah melakukan hal-hal yang akan memudahkan kalian untuk masuk ke surga jika kalian berwudhu lalu berangkat ke masjid untuk ikut duduk mendengarkan pengajian, atau mendengarkan ceramah para ustadz di televisi dan radio, maka itu artinya kalian sedang mengerjakan sesuatu yang nanti akan memudahkan kalian masuk surga.

2. Dinaungi para malaikat dan mendapatkan Rahmat dari Allah.
   Semua tempat yang digunakan untuk mempelajari dan menuntut ilmu, akan menjadi tempat yang sangat disukai oleh Allah dan Allah akan segera menurunkan rahmat-nya, kita akan diliputi ketenangan, dan disitulah para malaikat akan berkumpul. Mereka akan menaungi tempat itu bersama dengan semua orang yang duduk di sana dengan sayap-sayap mereka.

   Jadi mulai sekarang tidak ada alasan bagi kita untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, kita harus rajin ke sekolah, majlis ta'lim karena bila kita belajar dan menuntut ilmu, maka kita akan mendapatkan sekurang-kurangnya 3 keutamaan:
a. Kita akan dinaungi para malaikat
b. Ketenangan akan turun kepada kita
b. Kita akan diliputi Rahmat Allah
3. Kalian akan dihormati oleh para malaikat

   Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang sngat luar biasa. Mereka diciptakan oleh Allah dari cahaya. Allah Ta'ala menciptakan mereka untuk selalu taat dan patuh kepada semua perintah Allah. Karena itu, masing-masing malaikat memiliki tugas yang khas. Ada yang bertugas menyampaikan Wahyu. Ada yang bertugas mencatat amalan manusia. Bahkan ada yang diperintahkan hanya sujud saja kepada Allah. Mereka tidak mengerjakan apa-apa hingga hari kiamat kecuali sujud kepada-Nya.

  Lihat betapa mulianya makhluk bernama malaikat itu, bukan? Tapi sekarang bayangkanlah jika makhluk-makhluk mulia itu justru menghormati kita. Mereka akan menghormati kita hingga merendahkan sayap-sayap mereka kepada kita. Semua itu mereka lakukan karena mereka meridhai dan mencintai ketekunan kita serta menyukai kehadiran kita dalam belajar dan menuntut ilmu.

  Sesungguhnya betapa mulianya kita manusia, jika para malaikat saja telah merendahkan sayap-syapnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kesungguhan kita dalam menuntut ilmu.

4. Kita akan menjadi pewaris para nabi dan rasul
   Para nabi dan rosul adalah manusia paling mulia di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang menyamai kemuliaan para nabi dan rosul. Mereka adalah manusia pilihan Allah yang ditugaskan untuk membawa dan menyampaikan pesan dari Allah yaitu mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah.

   Dalam sejarahnya, hanya sedikit dari para nabi dan rosul yang dikaruniai kekayaan oleh Allah. Kebanyakan dari mereka adalah manusia-manusia yang hidup sederhana. Coba kalian baca bagaimana kehidupan Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka semua adalah manusia yang hidup dalam segala kekurangan dan keterbatasan.

   Contoh yang paling jelas adalah nabi kita, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Kehidupan beliau sangatlah sederhana, bahkan sangat kekurangan. Bukan berarti bahwa beliau tidak mampu untuk menjadi orang yang kaya-raya. Jangan lupa, beliau adalah seorang pedagang yang sangat sukses sebelum diutus sebagai rasulullah. Beliau memang sengaja memilih kehidupan yang sederhana di dunia ini, namun mendapatkan nikmat berlimpah ruah di akhirat kelak.

   Itulah sebabnya, para nabi dan rasul tidak pernah mewariskan harta dan kekayaan kepada umatnya. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu yang bermanfaat yang mereka terima dari Allah. Dan ilmu ini hanya akan diwarisi oleh mereka yang memiliki kesungguhan dan ketekunan hati dalam mencari, mempelajari dan kelak mengajarkannya kepada sesama. Siapa pun itu dan dari keturunan manapun ia, maka ia tidak mempunyai jaminan apa-apa untuk dapat mewarisi warisan para nabi dan rasul itu. Kecuali jika ia bersungguh-sungguh belajar dan menuntut ilmu serta mengamalkan apa yang ia pelajari tersebut.

Apa Manfaat Belajar dan Menuntut Ilmu bagi Kita?
1. Dengan belajar dan menuntut ilmu berarti kita telah membangun jalan menuju surga Allah
2. Jika kita belajar dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, Allah akan menurunkan rahmat-nya dan para malaikat-nya akan mencintai kita.
3. Dengan belajar dan menuntut ilmu berarti kita akan menjadi pewaris para nabi dan rasul.

by : Akimudin (Siswa Kelas 5 MMI)
#AJMATEAM

0 komentar:

Posting Komentar