Banner 468 x 60px

 

Kamis, 30 Januari 2020

Sunnah-sunnah di Hari Jum'at

0 komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Hari Jumat adalah hari yang mulia di sisi Allah. Karena itu, selayaknya ‎kaum muslimin juga ‎memuliakannya. ‎

Untuk bisa memuliakan hari jum’at, kita harus memahami ‎sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam terkait hari jumat.

Terdapat beberapa sunah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam ketika hari jumat, diantaranya,

Yang pertama, Memperbanyak ‎Sholawat kepada Nabi  shallallahu ‘alaihi ‎wa sallam

Dari Sahabat Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

Sesungguhnya hari yang paling utama adalah hari Jumat, karena itu perbanyaklah membaca shalawat untukku. Sesuhngguhnya shalawat kalian ditampakkan kepadaku.” (HR. Abu Daud 1531, Ibn Majah 1085, dan dishahihkan al-Albani)

Diantara bacaan shalawat yang diajarkan dalam islam adalah shalawat yang disebutkan dalam hadis dari Ka’ab bin Ujrah radhiallahu ‘anhu, bahwa para sahabat pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami telah memahami tata cara memberi salam kepada Anda, lalu bagaimana cara memberi salawat kepada Anda?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda, ‘Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ’”

(HR. Bukhari & Muslim)

Shalawat ini disebut dengan “salawat ibrahimiyah”. Shalawat ini merupakan shalawat terbaik karena langsung diajarkan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam kepada para sahabat.

Sunnah berikutnya, membaca surat al-Kahfi

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda,

إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين

Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua jum’at.” (HR. Hakim dengan sanad shahih).

Membaca surat al-Kahfi, bisa dilakukan di malam jumat atau siang hari jumat.

Sunah berikutnya, Memperbanyak do’a di hari Jum’at

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam membicarakan mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan jarinya yang menunjukkan betapa waktu mustajab itu hanya sebentar. (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852).

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam menjelaskan ada satu waktu singkat yang mustajab untuk berdoa.

Ulama berbeda pendapat, kapankah waktu yang mustajab itu. Pendapat yang paling kuat, waktu mustajab itu adalah setelah asar hingga maghrib, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، لَا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا، إِلَّا أَتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar.” (HR. Abu Daud no.1048 dan dishahihkan al-Albani)

Disamping sunah di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam juga mengajarkan berbagai sunah terkait shalat jumat. Diantaranya,

Yang pertama, mandi di hari jumat

Sebagian ulama berpendapat, mandi jumat bagi orang yang hendak jumatan, hukumnya wajib. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam,

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الجُمُعَةَ، فَلْيَغْتَسِلْ

Apabila kalian menghadiri Jumatan, hendaknya dia mandi.” (HR. Bukhari)

Sunah berikutnya, gosok gigi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam sangat memperhatikan kebersihan mulut ketika beribadah, terlebih ketika jumatan. Beliau bersabda,

الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَالسِّوَاكُ

Mandi hari jumat hukumnya wajib bagi orang yang sudah baligh dan bersiwak. (HR. Nasai dan dishahihkan al-Albani)

Sunah berikutnya, menggunakan minyak wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam menekankan hal ini melalui sabdanya,

وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ

Hendaknya memakai minyak wangi jika dia punya.” (HR. Abu Daud dan dihasankan al-Albani).

Sunah berikutnya, bersegera berangkat menuju masjid

Dianjurkan agar sepagi mungkin berangkat menuju masjid. Juga dianjurkan agar berjalan kaki dan tidak berkendaraan.

Adab ini disebutkan dalam hadis dari sahabat Aus bin Aus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَلَ، وَغَدَا وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ

Siapa yang mandi jumat, keramas, datang pagi-pagi, jalan kaki dan tidak berkendaraan…” (HR. Nasai, Abu Daud, dan dishahihkan al-Albani).

Sesampainya di masjid, hendaknya mengambil posisi terdepan yang bisa dijangkau. Beliau bersabda,

وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ، ثُمَّ جَلَسَ قَرِيبًا مِنَ الْإِمَامِ

Dia berangkat pagi menuju masjid dan duduk di dekat imam.” (HR. Ahmad)

Hati-hati, jangan sampai melangkahi pundak dua orang yang duduk berdampingan, atau melewati orang yang shalat. Karena semua ini dilarang keras oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam.

Selama menunggu imam, kita dianjurkan memperbanyak shalat sunah 2 rakaat – 2 rakaat, hingga imam datang. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis sebelumnya,

lalu dia mengerjakan shalat semampunya (sebelum imam datang)” (HR. Bukhari)

Selama imam bekhutbah, makmum dilarang melakukan beberapa hal,

Pertama, berbicara, sekalipun dalam rangka mengingatkan orang lain. Nabi bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الجُمُعَةِ: أَنْصِتْ، وَالإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ

Apabila kamu mengingatkan temanmu pada waktu jumatan, ”Diam!” padahal imam sedang berkhutbah, berarti kamu menggugurkan pahala jumatanmu.” (HR. Bukhari)

Kedua, bermain kerikil, tasbih, hp dan semacamnya. Nabi bersabda,

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Siapa yang bermain kerikil, berarti telah menggugurkan pahala jumatannya.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan yang lainnya)

Ketiga, duduk memeluk lutut (ihtiba’). Sahabat Muadz bin Anas menceritakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الحِبْوَةِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam melarang melakukan ihtiba’ (duduk memeluk lutut) ketika imam sedang khutbah jumat. (HR. Ahmad, Abu Daud dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Keempat, tidur ketika mendengarkan khutbah

Muhammad bin Sirin (ulama tabiin) menceritakan,

كَانُوا يَكْرَهُونَ النَّومَ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ وَيَقُولُونَ فِيهِ قَولًا شَدِيدًا

Mereka (para sahabat) sangat membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.” (Tafsir al-Qurthubi, 18/117)

Karena itu, apabila ngantuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam menyarankan agar pindah posisi. Beliau bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan al-Albani).

Seusai shalat jumat, kerjakanlah shalat sunah 2 rakaat atau 4 rakaat.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

Saya menghafal 10 rakaat rutinitas Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam.., diantaranya 2 rakaat sesudah jumatan di rumahnya. (HR. Bukhari & Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

Apabila kamu selesai shalat jumat, lakukanlah shalat 4 rakaat setelahnya. (HR. Muslim dan Nasai)

Semoga kita dimudahkan dalam mengamalkannya..

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA TEAM)

Read more...

APAPUN HARAKAHMU, AKU SAUDARAMU. SETIAP MUSLIM ADALAH SAUDARA. STOP PERPECAHAN; MARI BERSATU.

0 komentar

APAPUN HARAKAHMU, AKU SAUDARAMU. SETIAP MUSLIM ADALAH SAUDARA. STOP PERPECAHAN; MARI BERSATU.

FPI seperti sebatang baja yang terus menerus ditempa dengan fitnah, dengan penjara, dengan pembunuhan karakter oleh media liberal. Akhirnya terlihat sudah bentuk akhirnya menjadi pedang tajam pembela islam yang berkilau.

HTI laksana Perisai, yang membentengi ummat dari faham sekuler, hinggga ummat semakin matang dalam melihat situasi politik secara global dengan landasan Islam. Sehingga ummat semakin faham Bahwa islam memiliki sistem politik yang Super Tangguh dan Canggih.

Muhammadiyah Laksana Guru, yang tiada henti mencetak kader-kader dakwah yang mempunyai ghiroh ke-Islaman tinggi, menyiapkan rumah-rumah sakit untuk melayani kesehatan ummat secara menyeluruh.

NU laksana Tanggul, yang telah memisahkan antara air kotor dan air bersih, di suling di pondok-pondok pesantrennya, untuk kemudian di alirkan ketengah-tengah ladang persemaian nan subur.

Saudara-saudara Salaf, menggedor pemahaman kita tentang pentingnya Sunnah, menteladani dan terus mempelajari kehidupan menggunakan nya dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudara Dari Jamaah Tablig, yang tiada lelah terus mengajak kita untuk menghidupkan Amalan Masjid, untuk i’tikaf, sholat tepat waktu dan berjama’ah. Telah mengingatkan kita arti sebuah sunnah Mu’akadah.

Tarbiyah, yang telah dan terus mencetak generasi Rabbani, yang para murabbi’nya dengan Lantang Menyerukan Perbaikan di tengah-tengah Sistem parlemen yang amburadul, pun harus kita apresiasi.

Intinya, Seluruh komponem ummat ini, sedang berproses, saling mengisi Pos-posnya, untuk kemudian Bangkit dan Bersatu Dalam Panji-panji Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam ; Al-Liwa dan Ar-Rayyah.

Mari saudara/i ku, kita telah melihat dan merasakan betapa indahnya persatuan dalam Keimanan.. Kita kuat jika bersatu dalam Ta’at..

Insyaallah, saat waktu itu tiba, Allah Akan memberikan pertolongannya yang paripurna, Dengan Tegaknya Syariah Islam Dalam Naungan Khilafah Rosyidah 'ala Minhajin Nubuwwah.

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA)

Read more...

Sabtu, 18 Januari 2020

Tidak Berputus Asa Dari Rahmat Allah

0 komentar

Jauh sebelum diutusnya Nabi SAW, pernah ada seseorang yang luar biasanya ‘prestasi’ kejahatannya, ia telah membunuh sembilanpuluh sembilan orang tanpa alasan yang benar. Namun demikian, tiba-tiba tergerak dalam hatinya untuk bertaubat, hanya saja ia bimbang apakah masih ada peluang baginya untuk kembali ke jalan kebaikan. Orang-orang di sekitarnya menyarankan agar menemui seorang rahib untuk menanyakan hal itu.

Ketika tiba di tempat kediaman sang rahib, ia menceritakan kegundahan hatinya dan keinginannya untuk bertaubat. Sang rahib bertanya, “Apakah kesalahanmu itu?”

Ia berkata, “Saya telah membunuh sembilanpuluh sembilan orang tanpa alasan yang benar!!”

“Apa??” Seru sang rahib penuh kekagetan, “Membunuh sembilanpuluh sembilan orang? Tidak ada jalan bagimu!! Tempat yang tepat bagimu adalah neraka!!”

Lelaki itu sangat kecewa sekaligus marah. Ia sadar bahwa kesalahannya memang begitu besarnya. Tetapi cara sang rahib menyikapi dan ‘memvonis’ itu sangat melukai perasaannya. Walau hatinya mulai melembut dengan keinginannya untuk taubat, tetapi jiwa jahatnya belum benar-benar menghilang. Tanpa banyak bicara, ia mengambil pisaunya dan membunuh sang rahib. Genap sudah seratus nyawa tidak bersalah yang melayang di tangannya, tetapi ‘panggilan’ Ilahiah untuk bertaubat terus mengganggu perasaannya, hanya saja ia tidak tahu harus bagaimana?

Suatu ketika ada orang yang menyarankan untuk menemui seseorang yang alim di suatu tempat, dan ia segera menuju ke sana. Ketika tiba di tempat tinggal sang alim, ia menceritakan jalan hidupnya, termasuk ketika ia menggenapkan pembunuhannya yang ke seratus pada diri sang rahib, dan tentu saja keinginannya untuk bertaubat. Sang alim yang bijak itu berkata, “Tentu saja bisa, dan tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi keinginanmu untuk bertaubat. Tetapi tinggalkanlah tempat tinggalmu itu karena di sana memang kota maksiat. Pergilah ke KotaA (kota lainnya) karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah, beribadahlah engkau bersama mereka, dan jangan pernah kembali ke kotamu itu. Insyaallah engkau akan memperoleh ampunan Allah dan dimudahkan jalan kepada kebaikan!!”

Lelaki itu segera berangkat ke kotayang dimaksudkan sang alim, tetapi di tengah perjalanan kematian menjemputnya. Datanglah dua melaikat untuk menjemput jiwa lelaki itu, satu Malaikat rahmat dan satunya Malaikat azab (siksa). Dua malaikat itu bertengkar dan masing-masing merasa berhak untuk membawa jiwa lelaki itu. Sang Malaikat rahmat berkata, “Ia telah berjalan kepada Allah dengan sepenuh hatinya!!”

Malaikat azab berkata, “Ia tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali, justru kejahatannya yang bertumpuk-tumpuk!!”

Mereka berdua terus beradu argumentasi, sampai akhirnya Allah mengutus malaikat yang ketiga dalam bentuk manusia untuk menjadi ‘hakim’ bagi keduanya. Setelah masing-masing mengajukan pendapatnya, ia berkata, “Ukurlah jarak dua kota itu dari tempat kematiannnya ini, mana yang lebih dekat, maka ia termasuk dalam golongannya!!”

Mereka mengukur jaraknya, dan ternyata kota yang dituju (kota tempat ibadah dan penuh kebaikan) lebih dekat sejengkal daripada Kotamaksiat yang ditinggalkannya. Maka jiwanya dibawa oleh Malaikat rahmat, dan ia memperoleh ampunan Allah.

Dalam riwayat lainnya disebutkan, sebenarnya lelaki itu belum jauh meninggalkan kota maksiat tersebut. Tetapi Allah memang berkehendak untuk mengampuninya, maka dari tempat kematinnya itu, kota kebaikan dan ibadah dipanggil mendekat dan kota maksiat ‘dihalau’ menjauh hingga jarak keduanya hanya selisih sejengkal tangan, lebih dekat kepada kota kebaikan.

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA TEAM)

Read more...

Kamis, 16 Januari 2020

Ketika Manusia Berkata "Tuhan Ngga Adil"

0 komentar

Satu hari ada yang bilang, "Tuhan itu nggak adil". Nadanya mengandung kecewa dan getir, tapi lebih dalam lagi, ada pula harap dan mohon dalam suaranya

Aku coba buat ngertiin dia, menebak apa yang sudah dia lalui sampai dia bilang kayak gitu. Sebab aku jelas pernah terbersit di hati juga, but not saying out loud

Kadang kita sukanya pake logika buat ngertiin sesuatu. Orang baik mati cepet, sementara yang jahat banget ga mati-mati, dimana coba adilnya itu semua?

Orang yang berusaha keras, pagi malem ngukur jalan, banting tulang, tapi didzalimi, dibohongi, diperalat, bahkan mereka ga tau itu semua, ga paham

Tapi ada yang korupsi, kolusi, nepotisme. Jual data, jual harga diri, muka dua, tapi dapet jabatan, nongkrong jadi komisaris, kebal hukum, bergelimang dunia, adilnya dimana?

Ada orang yang siang malam berusaha gak nyakitin siapapun, dakwah semaksimalnya dengan masalah hidup segudang, tapi tetep aja diejek-ejek, diframing dan dituduh

Sementara maling-maling numpuk harta bukan lagi 7 turunan, tapi seolah hidup bakal selama-lamanya. "Tuhan ngga adil", akhirnya itu ledakan jiwa mereka yang ngalami begini

Tapi yang kita jarang sadari, memang itulah keadilan Allah. Adil seadil-adilnya, sebab yang kita hitung bukan cuma dunia, sebab yang kita harepin itu akhirat

Kalau cuma dunia, wajar kita terbersit "Tuhan nggak adil", astaghfirullah, rupanya kita sendiri sering banget cuma nimbang semua dari dunia aja

Tapi bagi yang meyakini dunia itu cuma tempat buat ujian, mereka tau, disini bukan ngarep rewards dan punishment, tapi lagi ngerjain soal, ngisi jawaban yang bener

Jadi jangan bosen jadi orang baik, fokus isi jawaban soal ujian dengan bener. Dan kalau Allah mau, down payment dari rewards dan punishment juga Allah segerakan di dunia

Nggak percaya? tunggu aja

Oleh : Ust. Felix
Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA TEAM) 
Read more...

Jumat, 10 Januari 2020

Hakikat Kehidupan Dunia

0 komentar

Pengertian :
Makna dunia dari segi bahasa: bersasal dari kata دَنَا  yang artinya dekat, sebgaimana disebutkan dalam Al Qur’an :
إِذۡ أَنتُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلۡقُصۡوَىٰ وَٱلرَّڪۡبُ أَسۡفَلَ مِنڪُمۡ‌ۚ وَلَوۡ تَوَاعَدتُّمۡ لَٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِى ٱلۡمِيعَـٰدِ‌ۙ وَلَـٰكِن لِّيَقۡضِىَ ٱللَّهُ أَمۡرً۬ا ڪَانَ مَفۡعُولاً۬ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ۬ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ۬‌ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ (٤٢)
Artinya : “(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Qs. Al-Anfaal [8] : 42)
 Demikian pula dalam ayat yang lain dalam Al Qur’an (Qs. 53 : 8,) dan (QS 67: 5)
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia (KKBI) kata "dekat" dapat diartikan dengan tidak jauh, hampir, maupun rapat tergantung dengan bunyi kalimatnya. Karenanya kata dekat dapat dijabarkan bahwa: "Sesuatu yang dekat tidak memerlukan tenaga, waktu dan fikiran yang membuat habis-habisan. Singkat dan cepat."

Dan juga berasal dari kata: دَنِىَ – يَدْنِيْ , yang artinya : hina atau rendah dalam hadits:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ. فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ: ))أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ (( فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قال:(( أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ )) قَالُوْا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ: (( فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” (HR. Muslim)
Penjelasan: jika dunia sifat asalnya adalah hina atau rendah, maka tidaklah pantas bagi orang yg beriman atau manusia yang berakal sehat berlomba-lomba memperebutkan sesuatu yang hina dan rendah. 

Hakikat Dunia dalam al-Qur’an dan As-Sunnah:
  1. Dunia adalah Ujian (Qs. Al Mulk [67] : 2)
Ayat tersebut ditafsirkan yakni siapa yang amalannya paling ikhlas (akhlasuhu) dan paling benar (ashwabuhu) ….Allah Ta’ala memberlakukan berbagai perintah dan larangan untuk mereka dan diuji dengan berbagai keinginan hawa nafsu yang memalingkan mereka dari perintah-Nya. Barangsiapa yang tunduk pada perintah Allah dan melakukan amalan baik, maka Allah akan memberi pahala yg baik di dunia dan di akhirat. Namun siapapun yang condong pada hawa nafsunya dan tidak menghiraukan perintah Allah maka akan mendapatkan balasan yang buruk… (Tafsir As-Sa’dy).

  1. Dunia adalah Fatamorgana (Qs. Ibrahim [14]:14; Qs.AN-Nur[ 24]:39)
Ditafsirkan sebagai tanah datar yang tidak ada pepohonan dan tumbuhannya yang disangka air oleh orang yang sangat kehausan, padahal itu adalah halusinasi yang batil, lalu ia bermaksud untuk menghilangkan rasa hausnya… (Tafsir As-Sa’dy).
Dunia seperti fatamorgana yang bermakna sesuatu yg menipu, bukan hakiki, nampak secara lahiriyah akan membahagiakan, namun jika tidak dituntun oleh syariat maka dunia adalah laksana fatamorgana yg tidak akan memenuhi obsesi.

  1. Dunia itu dilaknat
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi bersabda :
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
“Ketahuilah sesungguhnya dunia itu terlaknat dan segala isinya pun juga terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, dan orang yang berilmu atau orang yang belajar.”(HR. At-Tirmidzi)
Penjelasan:
  • Dunia pada asalnya terlaknat (dimurkai oleh Allah) jika ia keluar dari tuntunan agama (syariat).

  • Hadits di atas menunjukkan keutamaan zikrullah, orang yang berilmu (agama) dan orang yang menunntut ilmu (agama).

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA TEAM) 
Read more...

Senyum Itu Sedekah

0 komentar


Banyak orang yang memandang bahwa sedekah itu harus dengan harta. Sehingga mereka yang tidak memiliki harta merasa tidak mampu untuk bersedekah. Padahal tidak. Banyak hal yang Allah nilai sebagai sedekah. Bahkan setiap perbuatan baik yang dilakukan seseorang dinilai sedekah. Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda; 
عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ ؛ يُصَلُّوْنَ كَمَـا نُصَلِّـيْ ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَـا نَصُوْمُ ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِـهِمْ. قَالَ : «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللّٰـهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَـحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً ، وَأَمْرٌ بِالْـمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ ، وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوْا :  يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! أَيَأْتِـيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : «أَرَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِـي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِـي الْـحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu bahwa beberapa orang dari Sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?” Beliau menjawab : “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.” [HR. Muslim]

Senyummu Adalah Sedekah 
Satu lagi bentuk sedekah yang ringan, yaitu senyuman dan wajah berseri saat bertemu dengan saudaranya. Meski senyuman adalah amalan ringan, tapi ternyata banyak orang yang tidak sanggup tersenyum. Jangankan senyum, menjabat tangan saudaranya saja terkadang tidak mau. Ada orang yang karena dihinggapi gengsi dan perasaan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain, ia enggan bertegur-sapa dengan saudaranya, apalagi memberinya senyuman manis. 

Seorang atasan tudak mau tersenyum ketika bertemu bawahannya. Pejabat enggan tersenyum ketika ditemui rakyatnya. Guru tidak perlu tersenyum kepada murid-muridnya. Orang kaya begitu berhati-hati menebar senyum kepada orang-orang miskin. Dan bahkan, ada kyai, yang karena perasaan bahwa dirinya adalah orang hebat dan ingin dilihat berwibawa oleh jamaahnya, bibirnya selalu tertutup rapat untuk untuk sekedar menebar senyum. Memang, rasa-rasanya, di zaman ini senyum itu mahal harganya seperti mahalnya harga diri. 

Maka, jika kita mendapati orang muslim yang susah mengembangkan senyum, secara psikologis bisa diduga bahwa ia memiliki masalah dalam dirinya. Orang muslim yang enggan mengucapkan salam atau berjabat tangan dengan saudaranya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang bermasalah, atau orang yang memiliki masalah dengan orang lain. 

Mengucapkan salam dan menebar senyum kepada orang lain termasuk sedekah. Sedekah yang paling sederhana. Artinya, sedekah itu tidak mesti dengan uang, orang yang tidak punya uang dapat bersedekah dengan senyuman. Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah." (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: "Hasan gharib". (Dishahihkan oleh Al-bani dalam Shahih At-Targhib). 

Kalaupun kita sulit untuk memberikan senyuman, janganlah sampai menampakkan wajah yang masam dan sinis. Tampilkan wajah yang indah, menyenangkan, dan menampakkan keceriaan wajah kepada saudara kita, kita akan mendapatkan pahala sama seperti pahala orang yang bersedekah. (Lihat kitab Tuhfatul ahwadzi 6/75-76). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ 

Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” (HR. Muslim no. 2626).




Semoga Allah Ta'ala menerima setiap kebaikan kita kepada saudara-saudara kita dan menulis nya menjadi amal sedekah meski tidak mampu bersedekah dengan harta. Karena Allah Ta'ala tidak menyia-nyiakan setiap amal kebaikan yang dilakukan seseorang. 

Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam (AJMA TEAM) 
Read more...

Kamis, 09 Januari 2020

Aqidah Tauhid

0 komentar

Aqidah Tauhid itu dibagi 3 Bagian

Ustadz Firdiansyah, Lc, S.Sos.I Al Hafidz menjelaskan bahwa Tauhid, dibagi menjadi tiga pembahasan yakni:

1. Tauhid Rububiyah yang artinya, Meyakini Alloh SWT sebagai pencipta alam semesta. Umumnya tauhid ini ada sebagai fitrah manusia, bahkan oleh seorang atheis pun saat dirinya terancam ia akan menyebut-nyebut nama Alloh.

2. Tauhid Uluhiyah yang artinya, Meyakini Alloh sebagai satu-satunya yang berhak disembah. Pada bahasan ini, kita harus lebih dulu mengenal Alloh baru kita bisa meyakini dan mencintai Alloh.

3. Tauhid Asma wa shifat yang artinya, Alloh memiliki Asmaul Husna. Yang dapat kita renungi dan maknai serta mencoba untuk mengaplikasikannya dalam hidup kita.

Ustadz Firdiansyah menambahkan bahwa Puncak keimanan atau aqidah seseorang adalah apabila tidak ada yang ditakuti kecuali Alloh, bahwa Alloh lah satu-satunya Dzat yang paling Agung.


Rujuklah Kitab Kitab ini jika ingin mempelajari masalah Aqidah Tauhid:

Kitab al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Dar Ibnu al-Jauziy, Riyadh 1419 H.
Mudzakarah at-Tauhid, Syaikh Dr.Abdurrazaq ‘Afifi, al-Maktab al-Islamiy, Beirut 1403 H.
Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, Syaikh Imam Abu ‘Izzi ad-Dimasyqi, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut 1421 H.
I’anatu al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid, Syaikh Prof.Dr.Shaleh bin Fauzan al-Fauzan, Mu’assasah ar-Risalah, 1423 H.
Minhaj al-Firqah an-Najiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
Kitabut Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi.

Semoga bermanfaat, barokallohu fiikum.


AJMA TEAM (Tim Anak Jurnalis Ma'had Al-Islam) 
Read more...

Selasa, 07 Januari 2020

"TENTARA ALLOH"

0 komentar

Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh ...

Ternyata tentara Alloh bukan hanya manusia yang bersenjata lengkap saja, tetapi ...

1. *AIR*
Air itu tentara Alloh yang menenggelamkan kaum nabi Nuh 'alaihissalam, karena menghina dan mencaci maki utusan-Nya. Mereka semua mati (QS. Al-Ankabut : 14)

2. *ANGIN*
Angin itu tentara Alloh yang menghempaskan kaum 'Ad karena sombong dengan kemajuan teknologi arsitekturnya. Mereka semua Mati.(QS. Al-Haaqqah : 6-8)

3. *PETIR*
Petir itu tentara Alloh yang menyambar kaum Tsamud karena sombong menantang adzab-Nya. Mereka semua Mati. (QS. Hud : 68)

4. *TANAH*
Tanah itu tentara Alloh yang menelan kaum Sodom karena berprilaku bejat, homoseks dan lesbian. Mereka semua Mati. (QS. Al-Hijr : 73-76)

5. *HAWA PANAS*
Hawa Panas itu tentara Alloh yang menyengat kaum Madyan karena curang dalam bertransaksi. Mereka semua Mati. (QS. Al-Hajj : 44)

6. *LAUT*
Laut itu tentara Alloh yang menenggelamkan Fir'aun dan bala tentaranya karena sombong mengaku diri sebagai Tuhan. Mereka semua Mati. (QS. Al-Baqarah : 50)

7. *BURUNG ABABIL*
Burung Ababil itu tentara Alloh yang telah meluluh lantahkan Pasukan Raja Abraha, Disaat Pasukan Raja Abraha ingin menghancurkan Ka'bah, Mereka semua Mati. (QS.Al-Fil : 3)

Dalam semua sejarah yang tercatat, tentara-tentara Alloh itu datang setelah peringatan dari para utusan dan pembela agama-Nya diabaikan.

Dan dalam semua sejarah yang tercatat, tidak pernah ada penentang utusan dan penista agama-Nya yang Menang ... Semua binasa

*_SUBHANALLOH ... ALLOHU AKBAR ..._*
Read more...