Banner 468 x 60px

 

Kamis, 12 Desember 2019

NIAT YANG IKHLAS

0 komentar
PONDOK PESANTREN MODERN AL-ISLAM CIPOCOK JAYA KOTA SERANG BANTEN



     Kita awali perjalanan kita dengan mempelajari tentang niat yang ikhlas. Mengapa?  Nah, kita harus memulai dengan niat yang ikhlas.

     Niat yang ikhlas itu adalah penentu utama apakah amal kita diterima Allah atau tidak. Semua perkataan dan perbuatan kita kalau ingin diterima oleh Allah, maka harus dikerjakan dengan niat yang ikhlas.

    Shalat kita tidak akan diterima Allah jika kita tidak mengerjakannya dengan niat yang ikhlas. Begitu juga puasa kita, meskipun kita sudah menahan lapar dan dahaga seharian tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala, jika kita melakuakannya tidak dengan niat yang ikhlas.
Doa-doa kita, tidak akan didengar dan dikabulkan oleh Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas.

    Sedekah-sedekah kita. Meskipun kita telah bersedekah, tapi jika tidak dengan niat yang ikhlas, semuanya tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala.

     Begitu juga dengan amal-amal kita yang lainnya, jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas tidak akan ada gunanya di mata Allah Ta'ala.

     Nah sekarang kita sudah terbayang betap pentingnya niat yang ikhlas dalam hidup kita? Dan pasti sudah tidak sabar untuk mengetahui niat yang ikhlas itu apa kan?

Niat yang Ikhlas itu Apa?
   Niat yang ikhlas itu adalah ketika kita mengerjakan sebuah amal kebaikan atau meninggalkan sebuah dosa hanya karena Allah dan mengharapkan balasan-Nya, bukan karena selain Allah atau mengharapkan balasan dari selain Allah.

     Contohnya bila kita menunaikan shalat, maka kita harus melakukannya dengan niat hanya karena Allah. Dan ingatlah bahwasanya hanya Allah yang dapat membalasnya. Bukan ayah, bunda, ustadz, bapak ibu guru atau siapa pun. Maka bila sekarang ini kita mengerjakan shalat masih karena ingin dapat pujian dan hadiah dari ayah dan bunda, atau karena takut dihukum oleh mereka, maka kita harus memperbaiki niat shalatnya terlebih dahulu.

    Mungkin pada mulanya terasa agak berat dan susah, tapi kalau kita terus dan terus mencobanya, In Sya Allah, Allah akan memudahkannya bagi kita dan akan selalu menjaga niat ikhlas kita.

Apa Saja Keutamaan Niat yang Ikhlas Itu?

1. Niat yang ikhlas adalah penentu diterimanya amal kita.
     Alkisah, ada seseorang pengembara menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju kampung halamannya. Panas terik matahari harus ia lalui. Dingin malam yang menusuk tulang harus ia hadapi. Ditambah lagi dengan membawa beban yang sangat berat di punggungnya. 

     Tapi pengembara itu tidak mengenal lelah. Ia terus melanjutkan perjalanannya dengan hati yang penuh kepuasan. Kepuasan orang yang rindu pulang ke negrinya. Apalagi ia merasa trlah membawa bekal yang lebih dari cukup untuk itu. Bekal itulah yang selama ini ia pikul sepanjang perjalanannya.
Akhirnya, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan tahun berganti tahun. Pengembara itu tibalah dikampung halamannya. Dengan wajah yang berseri, ia menurunkan bekal yang ia pikul sekian lama dalam perjalanan yang panjang itu. "Sekarang telah tiba saatnya untuk membuka bekal ini". Pikirannya dalam hati.

     Dan ia pun membukanya. Tapi ia sungguh terkejut. Wajahnya menjadi sangat pucat. Ternyata selama ini, apa yang ia anggap sebagai bekal tidak lebih dari sekarung pasir yang tak berguna. Ia benar-benar telah salah menduga! Sekarang ia hanya bisa menyesal sejadi-jadinya. Namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.

     Begitulah gambaran tentang orang yang tidak ikhlas dalam beramal. Dia tidak pernah memeriksa dan memperbaiki niat dalam beramal, dia menyangka bahwa dia telah mengumpulkan bekal yang sangat banyak untuk hari akhir.  Dia merasa telah banyak sholat, puasa, zakat, berhaji, sedekah, dan lainnya. Tapi ketika Allah membuka semua amalannya, tidak satupun yang bernilai dan diterima oleh Allah Ta'ala. Tidak ada satu pun yang dapat dijadikan bekal. Jadilah dia menyesal, namun penyesalan itu tak berguna lagi. Semuanya sia-sia belaka. Hingga amal-amal yang dia lakukan akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya di sisi Allah.

2. Niat yang ikhlas adalah penentu seberapa besar pahala yang kita peroleh.
     Hari jum'at saat ahmad dan hakim bersama paman doni lagi menunaikan ibadah shalat jumat berjamaah ada pengumuman bahwasanya pada hari minggu akan diadakan kerja bakti untuk membersihkan masjid. Kerja bakti ini dilakukan karena pekarangan masjid sudah mulai tumbuh rumput ilalang yang tinggi-tinggi sehingga menghilangkan kesan bersih pada masjid, hal ini rutin dilakukan oleh warga selingkungan tempat masjid berdiri sebulan sekali dan seperti biasa ahmad dan hakim tidak pernah ketinggalan untuk ikut serta kerja bakti tersebut. "ahmad kita harus ikut kerja bakti hari minggu nanti" kata hakim. "pastibanyak kue-kue yang lezat sekali yang diantar ibu-ibu buat kita yang bekerja nanti" lanjut Hakim. "Hmmm... Aku akan menghabiskan banyak kue nantinya, aku nngak sabar untuk kerja bakti hari minggu nanti" pikir Hakim. "hakim kamu nggak bolrh begitu"kata Ahmad. "kita kerja bakti bukan karena disana nanti banyak kuenya, tapi kita kerja bakti niat karena Allah untuk membersihkan rumah-Nya, dan In Sya Allah kita akan mendapat pahala karenanya" lanjut Ahmad. "betul yang dikatakan ahmad, Hakim"ujar paman doni. "Nabi kita bersabda setiap amal-amal itu tidak lain bergantung pada hatinya. Dan sungguh setiap orang itu hanya mendapatkan (balasan) seauai dengan apa yang ia niatkan, jadi kamu harus memperbaiki niat kamu hakim"lanjut paman doni. Baik paman". Kata Hakim.

3. Niat itu tempatnya di hati, dan hati adalah pusat utama perhatian Allah kepada kita
     Manusia setidaknya terdiri dari dua unsur: unsur lahiriah (fisik) dan unsur batiniah (hati). Fisik menunjukan bagaimana penampilan kita dihadapan orang lain. Apakah kita gagah atau cantik, tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, cacat atau sempurna; semua itu dapat dilihat dari prnampilan fisik luar kita.

      Penampilan luar seperti ini bisa dibuat-buat. Orang yang sebenarnya biasa-biasa saja bisa menjadi kelihatan gagah dan cantik jika berhias. Tapi inti kehidupan seorang manusia ada pada unsur batiniahnya, ada pada hatinya. Manusia yang fisiknya sempurna bisa akan tampak buruk jika hatinya buruk. Sebaliknya, manusia yang secara fisik banyak memiliki kekurangan akan menjadi mulia jika ia mempunyai hati yang mulia.

      Dan mulia-tidaknya hati kita sangat ditentukan oleh niat kita. Niat yang baik, ikhlas dan tulus akan melahirkan hati yang baik, ikhlas dan tulus. Tapi niat yang buruk akan melahirkan hati yang buruk pula. Allah tidak melihat kepada fisik jasmani dan bentuk rupa kita, namun ia akan melihat hati-hati kita. Itulah sebabnya, penilaian Allah Ta'ala terhadap diri kita bermula dari hati kita.

     Jadi tidak terlalu penting apakah kita cakep atau tidak, keren atau tidak, kaya atau tidak; karena yang paling penting adalah dicintai Allah atau tidak. Dan syarat paling utama dicintai Allah adalah menjaga niat yang ikhlas.

     Bila kita memiliki perhatian yang sangat besar terhadap penampilan fisik, maka seharusnya perhatian terhadap prnampilan hati lebih besar dari pada itu.

     Bila kita rela mengeluarkan uang banyak untuk mempercantik prnampilan fisik, maka kerelaan untuk mengeluarkan uang demi mempercantik hati tentu haruslah jauh lebih besar dari pada itu semua. Karena, Allah tidak akan memperhitungkan bagaimana penampilan fisik kita. Allah hanya akan melihat bagaimana hati kita. Allah akan memperhitungkan bagaimana niat kita.

4. Dengan selalu menjaga niat yang ikhlas, pahala tetap mengalir meski kita berhalangan.
     Kalau kita sudah terbiasa beramal shaleh dengan niat yang ikhlas, maka suati ketika jika kita berhalangan mengerjakannya, In Sya Allah pahalanya akan tetap mengalir.
Misalnya kita sudah terbiasa mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Lalu tiba-tiba kita sakit sehingga tidak bisa ke masjid. Sebesarnya dalam hati, kita sangat ingin hadir di masjid, tapi kita ada halangan karena sakit tersebut. Dalam keadaan demikian, maka In Sya Allah kita akan tetap mendapatkan pahala shalat berjamaah di masjid. Kenapa bisa demikia? Penyebabnya adalah karena dalam hati, kita memiliki niat yang kuat untuk mengerjakan shalat berjamaah di masjid.

Coba kita baca kisah berikut ini:
     Dahulu di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam terjadi sebuah pertempuran yang bernama perang tabuk. Banyak sahabat Nabi yang berduyun-duyun ikut serta di dalamnya.
Namun. Ternyata ada beberapa sahabat yang tidak bisa ikut serta dalam pertempuran tersebut. Sebagian mereka sakit, dan juga ada yang sudah tua dan tidak mampu lagi untuk ikut serta. Tapi di lubuk hati mereka, merwka sangat ingin ikut bersama Nabi. Hati mereka sedih karenanya. Mata mereka menangis memikirkan itu.

     Namun Allah maha luas Rahmat-Nya, sepulangnya dari medan pertempuran tersebut, di tengah perjalanan Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan kepada para sahabat "sesungguhnya ada sekelompok orang yang tidak bisa ikut serta dalam pertempuran ini, tapi merwka tetap bersama dengan kita, hanya saja mereka terhalang untuk menyertai kita" maksud Nabi mengatakan "....mereka bersama kita... " adalah mereka mendapat pahala yang sama dengan mereka yang ikut serta bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Ini trntu saja menjadi kabar gembirabagi mereka yang tidak bisa ikut serta tersebut.

     Bagaimana? Asyik kan? Kalau kita selalu berniat ikhlas? Tidak ikut bertempur, tapi dapat pahala yang sama dengan mereka yang ikut. Tapi harus ingat syaratnya: kita tidak bisa ikut mengerjakannya namun hati kita sebenarnya sangat ingin mengerjakannya.

5. Niat yang baik dan ikhlas dicatat, niat yang jahat diabaikan
     Suati hari Ahmad berniat untuk menyedahkan uang jajan yang selama ini dia sisihkan. Dia benar-benar besemangat untuk menyedahkan sebagian uang jajannya itu karena dia tahu dia akan mendapatkan pahala dari Allah karena bersedekah.

     Tapi hari itu setelah membayar ongkos dan turun dari mobil angkutan umum, dia merogoh kantong bajunya di mana dia menyimpan uang jajannya. Dia terkejut. Kantong itu kosong! Hati Ahmad tiba-tiba menjadi sangat sedih. "Padahal hari iniaku sudah meniatkan sebagian uang jajan itu unyuk sedekah," ujarnya agak sedikit terisak.

      Nah, untuk si Ahmad kita sampaikan kabar gembira ini: In Sya Allah diatetap akan mendapatkan pahala sedekahnya, karena dia sudah berniat melakukan sebuah hari ini, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda" siapa yang berniat melakukan kebaikan namun belum bisa melakukannya, Allah akan mencatatnya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna. Dan jika ia berniat melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allahakan mencatatnya sebagai 10 kebaikan hingga 700 kalilipat, bahkan berkali-kali lipat dari itu".

Coba kita simak kisah yang lain berikut ini...
     Seorang anak bernama Firman hari itu berniat mengerjai temen sekelasnya yang bernama utsman. Dia telah menyiapkan suatu cara untuk mengganggu temannya itu. "Aku akan mengerjai dia setelah pulang sekolah! " katanya sambil tersenyum.

     Namun oada jam pelajaran tetakhir, pak guru di kelas memberikan penjelasan tentang bahaya berbuat jahat kepada sesama manusia. Pak guru menjrlaskan "orang yang sewaktu hidup di dunia banyak melakukan kebaikan, tapi di saat yang sama diajuga sering mengganggu dan berbuat jahat pada orang lain. Maka kelak di akhirat, semua kebaikan yang dia miliki diberikan kepada orang-orang yang diganggu atau yang oernah dijahatinya. Kalau ternyata belum cukup, maka dosa orang yang diganggu dan dijahatinya tersebut akan dipikulkan kepadanya". Anak-anak terdiam mendengarnya. Termasuk Firman.

     "Nah, siapa diantara kalian kalian ingin seperti itu?," tanyak pak guru. Semua anak semakin terdiam. Terlebih-lebih si Firman. Dia selama ini berpikir bahwa jika dilakukan sekedar iseng tidak akan sampai berakibat seperti itu. Akhirnyadia berkata"sudahlah,mulai hari ini aku akan berhenti untuk mengisengi teman-temanku, " tekadnya dalam hati.

     Tapi apakah si Firman dianggap telah berdosa karena berniat jahat seperti itu? Disinilah bukti kasih sayang Allah kepada kita. Bila kita sekedar berniat melakukan sebuah kejahatan, maka itu belumlah dicatat sebagai sebuah dosa. Ia akan dicatat sebagai dosa bila kita telah melakukannya. Bahkan kita berniat melakukan kejahatn, lalu kita sadar dan mengurungkan niat, justru akan menjadi sebuah kebaikan di sisi Allah. Karena Nabi Shallalahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda "barang siapa yang berniat melakukan keburukan namun tidak jadi mengerjakannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai sebuah kebaikan. Namun jika berniat keburukanlalu mengerjakannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu keburukan. "

     Luar biasa bukan! Kalau kita selalu punya niat yang baik dan ikhlas, kita mendapatkan kebaikan. Kalau kita mengurung niat untuk melakukan kejahatan atau dosa, maka kita juga akan mendapatkan suatu kebaikan.

Apa Manfaat Niat yang Ikhlas Bagi Kita?
1. Niat yang ikhlas adalah penentu utama diterimanya semua amal kita di sisi Allah.
2. Seberapa besar pahala yang diberikan Allah pada kita sangat bergantung pada seberapa besar keikhlasan kita dalam beramal.
3. Allah tidak peduli kita ganteng dan cantik atau keren atau tidak, banyak uang atau tidak. Allah hanya peduli: kita ikhlas atau tidak.
4. Kita akan tetap mendapatkan pahala meski kita berhalangan melakukan kebaikan, selama kita memang berniat mengerjakannya.
5. Sebaliknya, jika kita berniat melakukan keburukan, lalu kita mengurungkan niat, maka kita akan mendapatkan satu kebaikan di sisi Allah.





by: Jahudi (Siswa kelas 4 MMI)
#AJMATEAM

0 komentar:

Posting Komentar