Kita
awali perjalanan kita dengan mempelajari tentang niat yang ikhlas. Mengapa? Nah, kita harus memulai dengan niat yang ikhlas.
Niat
yang ikhlas itu adalah penentu utama apakah amal kita diterima Allah atau tidak.
Semua perkataan dan perbuatan kita kalau ingin diterima oleh Allah, maka harus dikerjakan
dengan niat yang ikhlas.
Shalat
kita tidak akan diterima Allah jika kita tidak mengerjakannya dengan niat yang ikhlas.
Begitu juga puasa kita, meskipun kita sudah menahan lapar dan dahaga seharian tidak
akan diterima oleh Allah Ta'ala, jika kita melakuakannya tidak dengan niat yang
ikhlas.
Doa-doa
kita, tidak akan didengar dan dikabulkan oleh Allah jika tidak dilandasi dengan
niat yang ikhlas.
Sedekah-sedekah
kita. Meskipun kita telah bersedekah, tapi jika tidak dengan niat yang ikhlas, semuanya
tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala.
Begitu
juga dengan amal-amal kita yang lainnya, jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas
tidak akan ada gunanya di mata Allah Ta'ala.
Nah
sekarang kita sudah terbayang betap pentingnya niat yang ikhlas dalam hidup kita?
Dan pasti sudah tidak sabar untuk mengetahui niat yang ikhlas itu apa kan?
Niat
yang Ikhlas itu Apa?
Niat
yang ikhlas itu adalah ketika kita mengerjakan sebuah amal kebaikan atau meninggalkan
sebuah dosa hanya karena Allah dan mengharapkan balasan-Nya, bukan karena selain
Allah atau mengharapkan balasan dari selain Allah.
Contohnya
bila kita menunaikan shalat, maka kita harus melakukannya dengan niat hanya karena
Allah. Dan ingatlah bahwasanya hanya Allah yang dapat membalasnya. Bukan ayah, bunda,
ustadz, bapak ibu guru atau siapa pun. Maka bila sekarang ini kita mengerjakan shalat
masih karena ingin dapat pujian dan hadiah dari ayah dan bunda, atau karena takut
dihukum oleh mereka, maka kita harus memperbaiki niat shalatnya terlebih dahulu.
Mungkin
pada mulanya terasa agak berat dan susah, tapi kalau kita terus dan terus mencobanya,
In Sya Allah, Allah akan memudahkannya bagi kita dan akan selalu menjaga niat ikhlas
kita.
Apa
Saja Keutamaan Niat yang Ikhlas Itu?
1.
Niat yang ikhlas adalah penentu diterimanya amal kita.
Alkisah,
ada seseorang pengembara menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju kampung
halamannya. Panas terik matahari harus ia lalui. Dingin malam yang menusuk
tulang harus ia hadapi. Ditambah lagi dengan membawa beban yang sangat berat di
punggungnya.
Tapi
pengembara itu tidak mengenal lelah. Ia terus melanjutkan perjalanannya dengan
hati yang penuh kepuasan. Kepuasan orang yang rindu pulang ke negrinya. Apalagi
ia merasa trlah membawa bekal yang lebih dari cukup untuk itu. Bekal itulah
yang selama ini ia pikul sepanjang perjalanannya.
Akhirnya,
hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan tahun berganti tahun.
Pengembara itu tibalah dikampung halamannya. Dengan wajah yang berseri, ia
menurunkan bekal yang ia pikul sekian lama dalam perjalanan yang panjang itu.
"Sekarang telah tiba saatnya untuk membuka bekal ini". Pikirannya
dalam hati.
Dan
ia pun membukanya. Tapi ia sungguh terkejut. Wajahnya menjadi sangat pucat.
Ternyata selama ini, apa yang ia anggap sebagai bekal tidak lebih dari sekarung
pasir yang tak berguna. Ia benar-benar telah salah menduga! Sekarang ia hanya
bisa menyesal sejadi-jadinya. Namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.
Begitulah
gambaran tentang orang yang tidak ikhlas dalam beramal. Dia tidak pernah
memeriksa dan memperbaiki niat dalam beramal, dia menyangka bahwa dia telah mengumpulkan
bekal yang sangat banyak untuk hari akhir.
Dia merasa telah banyak sholat, puasa, zakat, berhaji, sedekah, dan
lainnya. Tapi ketika Allah membuka semua amalannya, tidak satupun yang bernilai
dan diterima oleh Allah Ta'ala. Tidak ada satu pun yang dapat dijadikan bekal.
Jadilah dia menyesal, namun penyesalan itu tak berguna lagi. Semuanya sia-sia
belaka. Hingga amal-amal yang dia lakukan akan menjadi sia-sia dan tidak ada
gunanya di sisi Allah.
2.
Niat yang ikhlas adalah penentu seberapa besar pahala yang kita peroleh.
Hari
jum'at saat ahmad dan hakim bersama paman doni lagi menunaikan ibadah shalat jumat
berjamaah ada pengumuman bahwasanya pada hari minggu akan diadakan kerja bakti
untuk membersihkan masjid. Kerja bakti ini dilakukan karena pekarangan masjid
sudah mulai tumbuh rumput ilalang yang tinggi-tinggi sehingga menghilangkan
kesan bersih pada masjid, hal ini rutin dilakukan oleh warga selingkungan
tempat masjid berdiri sebulan sekali dan seperti biasa ahmad dan hakim tidak
pernah ketinggalan untuk ikut serta kerja bakti tersebut. "ahmad kita
harus ikut kerja bakti hari minggu nanti" kata hakim. "pastibanyak
kue-kue yang lezat sekali yang diantar ibu-ibu buat kita yang bekerja
nanti" lanjut Hakim. "Hmmm... Aku akan menghabiskan banyak kue
nantinya, aku nngak sabar untuk kerja bakti hari minggu nanti" pikir
Hakim. "hakim kamu nggak bolrh begitu"kata Ahmad. "kita kerja
bakti bukan karena disana nanti banyak kuenya, tapi kita kerja bakti niat
karena Allah untuk membersihkan rumah-Nya, dan In Sya Allah kita akan mendapat
pahala karenanya" lanjut Ahmad. "betul yang dikatakan ahmad, Hakim"ujar
paman doni. "Nabi kita bersabda setiap amal-amal itu tidak lain bergantung
pada hatinya. Dan sungguh setiap orang itu hanya mendapatkan (balasan) seauai dengan
apa yang ia niatkan, jadi kamu harus memperbaiki niat kamu hakim"lanjut
paman doni. Baik paman". Kata Hakim.
3.
Niat itu tempatnya di hati, dan hati adalah pusat utama perhatian Allah kepada
kita
Manusia
setidaknya terdiri dari dua unsur: unsur lahiriah (fisik) dan unsur batiniah
(hati). Fisik menunjukan bagaimana penampilan kita dihadapan orang lain. Apakah
kita gagah atau cantik, tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, cacat atau
sempurna; semua itu dapat dilihat dari prnampilan fisik luar kita.
Penampilan
luar seperti ini bisa dibuat-buat. Orang yang sebenarnya biasa-biasa saja bisa
menjadi kelihatan gagah dan cantik jika berhias. Tapi inti kehidupan seorang
manusia ada pada unsur batiniahnya, ada pada hatinya. Manusia yang fisiknya sempurna
bisa akan tampak buruk jika hatinya buruk. Sebaliknya, manusia yang secara
fisik banyak memiliki kekurangan akan menjadi mulia jika ia mempunyai hati yang
mulia.
Dan
mulia-tidaknya hati kita sangat ditentukan oleh niat kita. Niat yang baik,
ikhlas dan tulus akan melahirkan hati yang baik, ikhlas dan tulus. Tapi niat
yang buruk akan melahirkan hati yang buruk pula. Allah tidak melihat kepada
fisik jasmani dan bentuk rupa kita, namun ia akan melihat hati-hati kita.
Itulah sebabnya, penilaian Allah Ta'ala terhadap diri kita bermula dari hati
kita.
Jadi
tidak terlalu penting apakah kita cakep atau tidak, keren atau tidak, kaya atau
tidak; karena yang paling penting adalah dicintai Allah atau tidak. Dan syarat
paling utama dicintai Allah adalah menjaga niat yang ikhlas.
Bila
kita memiliki perhatian yang sangat besar terhadap penampilan fisik, maka
seharusnya perhatian terhadap prnampilan hati lebih besar dari pada itu.
Bila
kita rela mengeluarkan uang banyak untuk mempercantik prnampilan fisik, maka
kerelaan untuk mengeluarkan uang demi mempercantik hati tentu haruslah jauh
lebih besar dari pada itu semua. Karena, Allah tidak akan memperhitungkan
bagaimana penampilan fisik kita. Allah hanya akan melihat bagaimana hati kita.
Allah akan memperhitungkan bagaimana niat kita.
4.
Dengan selalu menjaga niat yang ikhlas, pahala tetap mengalir meski kita
berhalangan.
Kalau
kita sudah terbiasa beramal shaleh dengan niat yang ikhlas, maka suati ketika
jika kita berhalangan mengerjakannya, In Sya Allah pahalanya akan tetap
mengalir.
Misalnya
kita sudah terbiasa mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Lalu tiba-tiba kita
sakit sehingga tidak bisa ke masjid. Sebesarnya dalam hati, kita sangat ingin
hadir di masjid, tapi kita ada halangan karena sakit tersebut. Dalam keadaan demikian,
maka In Sya Allah kita akan tetap mendapatkan pahala shalat berjamaah di
masjid. Kenapa bisa demikia? Penyebabnya adalah karena dalam hati, kita
memiliki niat yang kuat untuk mengerjakan shalat berjamaah di masjid.
Coba
kita baca kisah berikut ini:
Dahulu
di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam terjadi sebuah pertempuran
yang bernama perang tabuk. Banyak sahabat Nabi yang berduyun-duyun ikut serta
di dalamnya.
Namun.
Ternyata ada beberapa sahabat yang tidak bisa ikut serta dalam pertempuran
tersebut. Sebagian mereka sakit, dan juga ada yang sudah tua dan tidak mampu
lagi untuk ikut serta. Tapi di lubuk hati mereka, merwka sangat ingin ikut
bersama Nabi. Hati mereka sedih karenanya. Mata mereka menangis memikirkan itu.
Namun
Allah maha luas Rahmat-Nya, sepulangnya dari medan pertempuran tersebut, di
tengah perjalanan Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan kepada para
sahabat "sesungguhnya ada sekelompok orang yang tidak bisa ikut serta
dalam pertempuran ini, tapi merwka tetap bersama dengan kita, hanya saja mereka
terhalang untuk menyertai kita" maksud Nabi mengatakan "....mereka
bersama kita... " adalah mereka mendapat pahala yang sama dengan mereka
yang ikut serta bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Ini trntu
saja menjadi kabar gembirabagi mereka yang tidak bisa ikut serta tersebut.
Bagaimana?
Asyik kan? Kalau kita selalu berniat ikhlas? Tidak ikut bertempur, tapi dapat
pahala yang sama dengan mereka yang ikut. Tapi harus ingat syaratnya: kita
tidak bisa ikut mengerjakannya namun hati kita sebenarnya sangat ingin mengerjakannya.
5.
Niat yang baik dan ikhlas dicatat, niat yang jahat diabaikan
Suati
hari Ahmad berniat untuk menyedahkan uang jajan yang selama ini dia sisihkan.
Dia benar-benar besemangat untuk menyedahkan sebagian uang jajannya itu karena
dia tahu dia akan mendapatkan pahala dari Allah karena bersedekah.
Tapi
hari itu setelah membayar ongkos dan turun dari mobil angkutan umum, dia
merogoh kantong bajunya di mana dia menyimpan uang jajannya. Dia terkejut.
Kantong itu kosong! Hati Ahmad tiba-tiba menjadi sangat sedih. "Padahal
hari iniaku sudah meniatkan sebagian uang jajan itu unyuk sedekah," ujarnya
agak sedikit terisak.
Nah,
untuk si Ahmad kita sampaikan kabar gembira ini: In Sya Allah diatetap akan
mendapatkan pahala sedekahnya, karena dia sudah berniat melakukan sebuah hari
ini, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda" siapa yang
berniat melakukan kebaikan namun belum bisa melakukannya, Allah akan
mencatatnya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna. Dan jika ia berniat melakukan
kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allahakan mencatatnya sebagai 10 kebaikan
hingga 700 kalilipat, bahkan berkali-kali lipat dari itu".
Coba
kita simak kisah yang lain berikut ini...
Seorang
anak bernama Firman hari itu berniat mengerjai temen sekelasnya yang bernama utsman.
Dia telah menyiapkan suatu cara untuk mengganggu temannya itu. "Aku akan
mengerjai dia setelah pulang sekolah! " katanya sambil tersenyum.
Namun
oada jam pelajaran tetakhir, pak guru di kelas memberikan penjelasan tentang
bahaya berbuat jahat kepada sesama manusia. Pak guru menjrlaskan "orang
yang sewaktu hidup di dunia banyak melakukan kebaikan, tapi di saat yang sama
diajuga sering mengganggu dan berbuat jahat pada orang lain. Maka kelak di
akhirat, semua kebaikan yang dia miliki diberikan kepada orang-orang yang
diganggu atau yang oernah dijahatinya. Kalau ternyata belum cukup, maka dosa
orang yang diganggu dan dijahatinya tersebut akan dipikulkan kepadanya".
Anak-anak terdiam mendengarnya. Termasuk Firman.
"Nah,
siapa diantara kalian kalian ingin seperti itu?," tanyak pak guru. Semua
anak semakin terdiam. Terlebih-lebih si Firman. Dia selama ini berpikir bahwa
jika dilakukan sekedar iseng tidak akan sampai berakibat seperti itu.
Akhirnyadia berkata"sudahlah,mulai hari ini aku akan berhenti untuk
mengisengi teman-temanku, " tekadnya dalam hati.
Tapi
apakah si Firman dianggap telah berdosa karena berniat jahat seperti itu? Disinilah
bukti kasih sayang Allah kepada kita. Bila kita sekedar berniat melakukan
sebuah kejahatan, maka itu belumlah dicatat sebagai sebuah dosa. Ia akan
dicatat sebagai dosa bila kita telah melakukannya. Bahkan kita berniat
melakukan kejahatn, lalu kita sadar dan mengurungkan niat, justru akan menjadi
sebuah kebaikan di sisi Allah. Karena Nabi Shallalahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda
"barang siapa yang berniat melakukan keburukan namun tidak jadi mengerjakannya,
maka Allah akan mencatatnya sebagai sebuah kebaikan. Namun jika berniat
keburukanlalu mengerjakannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu
keburukan. "
Luar
biasa bukan! Kalau kita selalu punya niat yang baik dan ikhlas, kita mendapatkan
kebaikan. Kalau kita mengurung niat untuk melakukan kejahatan atau dosa, maka
kita juga akan mendapatkan suatu kebaikan.
Apa
Manfaat Niat yang Ikhlas Bagi Kita?
1.
Niat yang ikhlas adalah penentu utama diterimanya semua amal kita di sisi Allah.
2.
Seberapa besar pahala yang diberikan Allah pada kita sangat bergantung pada
seberapa besar keikhlasan kita dalam beramal.
3.
Allah tidak peduli kita ganteng dan cantik atau keren atau tidak, banyak uang
atau tidak. Allah hanya peduli: kita ikhlas atau tidak.
4.
Kita akan tetap mendapatkan pahala meski kita berhalangan melakukan kebaikan,
selama kita memang berniat mengerjakannya.
5.
Sebaliknya, jika kita berniat melakukan keburukan, lalu kita mengurungkan niat,
maka kita akan mendapatkan satu kebaikan di sisi Allah.
by: Jahudi (Siswa kelas 4 MMI)
#AJMATEAM





0 komentar:
Posting Komentar