Banner 468 x 60px

 

Rabu, 13 Mei 2020

LAILATUL QODAR

0 komentar


Umat nabi Muhammad saw adalah umat akhir zaman, usia hidup mereka terbatas pada kisaran beberapa tahun saja, sedikit sekali orang yang umurnya lebih dari 70 tahun, sebagai mana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw :


أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

"Usia umatku antar enam puluh hingga tujuh puluh (tahun) dan sangat jarang sekali dari mereka yang usianya lebih dari itu. " (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al-Albani)

Berbeda dengan umat-umat terdahulu, umur mereka bisa mencapai ratusan tahun. Mereka dapat menggunakan usia panjang tersebut untuk beribadah kepada Allah swt. Sebagaimana disebutkan didalam Al-Qur'an bahwa nabi Nuh as berdakwah dan tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun, sebuah usia yang lama dan bahkan fantasis untuk ukuran kita.

Akan tetapi Allah swt Dzat Yang Maha adil dan Maha bijaksana telah menjadikan satu malam yang mulia dan berharga pada bulan Ramadhan sebagai gantinya. Seandainya umat Islam menggunakan dan mengerahkan kesungguhan semaksimal mungkin untuk mendapatkan satu malam tersebut, maka umat ini akan hidup dengan umur yang pendek tapi amal sholehnya dapat menyamai atau melebihi amal sholeh umat-umat terdahulu sebelum mereka. Dan benarlah sabda Nabi Muhammad saw yang menunjukan bahwa umat ini adalah umat yang paling utama pada kiamat nanti dan masuk surga yang pertama kali.

Malam itu adalah malam Agung dan mulia, karena ibadah pada malam itu menyamai ibadah seribu bulan. Malam itu adalah Lailatul Qodar yang secara harfiah diartikan dengan malam kemuliaan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ

"Lailatul Qodar (malam kumuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan. "(QS. Al-Qodar (97):3)

Sebagi contoh aplikasinya, jika kita mujahadah (bersungguh-sungguh) untuk melakukan sholat malam pada sepuluh malam-malam terakhir di bulan Ramadhan selama sepuluh tahun, maka ibadah tersebut In Sya Allah swt lebih baik dari pada 1000 bulan. sementara jika kita hitung untuk 1000 bulan saja ada sekitar 83 tahun. Jadi ibadah di Lailatul Qodar lebih baik dari pada ibadah selama 83 tahun. jika kita kalikan sebanyak sepuluh tahun ramadhan maka 83 x 10 jadi lebih baik dari 830 tahun. Sungguh luar biasa pahala malam Lailatul Qodar. Jika demikian, relakah kita melewatkan malam-malam yang agung tersebut untuk sibuk di Mall, pasar atau bergadang di depan televisi?

Karena kemuliaan malam inilah umat Nabi SAW mampu mendahului umat-umat lain pada hari kiamat dan pertama kali masuk surga; yaitu dengan memanfaatkan keberkahan Lailatul Qodar, kesempatan emas yang tidak pernah di berikan Allah kepada umat para Nabi lainnya.

1. Sebab Penamaan Lailatul Qodar
    Kata Lailatul Qodar  taerdiri dari dua kata, yaitu Lailah yang berarti malam dan Qadar yang berarti takaran yang bernilai dan terbatas. Para ulama berbeda pendapat mengenai sebab penamaan Lailatul Qadar dalam beberapa pendapat: penamaan Lailatul Qadar  dalam beberapa pendapat:

     Pertama : karena pada malam itu allah menetapkan rezki, taqdir, dan ajal pada tahun itu, serta apa yang terjadi pada tahun depannya.
    Kedua : diambil dari kata Qadar yaitu keagungan dan kemuliaan, karena besarnya pahala dan kemuliaan yang ada di dalam itu.
   Ketiga : dinamakan Lailatul Qadar  karena amal perbuatan manusia di malam itu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah.

    Dari beberapa pendapat tersebut, kita mengetahui arti dan makna Lailatul Qadar  secara hakiki. Bahwa dia adalah kesempatan emas bagi seluruh umat islam untuk menambah keimanan dan meraih kedudukan tinggi di sisi allah dalam waktu yang singkat.

2. kutamaan Lailatul Qodar.
     Keutamaan Lailatul Qodar telah di jelaskan oleh allah dalam surat al-qadar dan hadis nabi berikut:
a. Lailatul Qadar  lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT. Berfirman

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ

‘’Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.’’(QS. Al-Qadar[97]:3)

    Sesungguhnya Lailatul Qadar  adalah malam yang paling utama dari malam-malam dalam setahun. Orang yang bahagia adalah orang yang dimudahkan Allah untuk bangun mendirikan sholat dan bersungguh-sungguh mengerjakan amal sholeh. Sesungguhnya amal sholeh pada malam itu agung pahalanya, tidak seperti amal sholeh pada malam lainnya, bahkan seakan-akan beribadah selama seribu bulan .

b. Para malaikat dan Jibril juga turun di malam itu.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


تَنَزَّلُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَا لرُّوْحُ فِيْهَا بِاِ ذْنِ رَبِّهِمْ ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ

"Pada malam itu turun para malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan."
(QS. Al-Qadr 97: Ayat 4)

Turunnya para malaikat dan Jibril pada malam Lailatul Qodar  karena banyaknya keberkahan pada malam itu dan malaikat turun bersamaan dengan turunnya rahmat dan berkah. Sebagian mereka turun ke sisi orang yang membaca Al-Quran, mereka juga akan menggepakan sayapnya untuk membenarkan dan mengagungkan orang tersebut.

c. Melimpahnya kesejahteraan hingga terbit fajar.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


سَلٰمٌ  ۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ‘’ (QS. Al-qadar[97]:5)

    Seluruh malam itu penuh kebaikan, tiada keburukan di dalamnya.
   Mujahid berkata, “dalam firman Allah “salamun hiya’’, maksudnya adalah, karena keselamatan setan tidak dapat berbuat buruk atau merintanginya.’’

d. orang yang menghidupkan malam Lailatul Qodar dengan keimanan dan mencari pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
    Orang yang diberi taufik untuk berdiri, bangun pada malam Lailatul Qodar, dan ia menghabiskan malam itu dengan sholat, istghfar, berdoa dan ibadah lainnya, maka Allah akan mengampuni dosa dosanya yang telah lampau.

Rosulullah SAW bersabda
من قام ليلة القدر ايمانا و احتسابا غفرله ما تقدم من ذنبه

"Barang Siapa berdiri (Sholat) malam Lailatul Qadar  dengan keimanan dan mencari (pahala), diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu." (HR. Bukhori dan Muslim)

   Imam An-Nawawi berkata: "Makna "imanan" adalah pembenaran bahwa Lailatul Qadar  itu hak (benar adanya), dengan berusaha mencari kemuliaannya. Dan makna "ihtisaban" adalah berkeinginan untuk Allah Ta'ala saja, tidak bermaksud agar dilihat oleh orang atau lainnya yang menyelisihi keikhlasan. Dan maksud "qiyaman" adalah sholat Tarawih yang telah disepakati oleh para ulama sebagai sunnah."

    Imam An-Nawawi juga berkata: "Maksud Penghapusan, yaitu jika pelakunya memiliki keburukan, maka dosa-dosa kecilnya dihapus, atau dosa-dosa besarnya diperingan. Dan jika ia tidak memiliki dosa, maka kedudukannya di surga akan ditinggikan.

3. Dirahasiakannya Lailatul Qadar
  Kepastian tepatnya kedatangan Lailatul Qadar  sengaja dirahasiakan oleh Allah Ta'ala, agar menggugah para hamba untuk senantiasa merindukan dan mencari kemuliaan di sisi Allah Ta'ala.

  Ubadah bin Shomit r.a bahwa Rasulullah SAW keluar untuk mengabarkan kedatangan Lailatul Qadar, namun pada waktu itu ada dua orang yang berdebat sengit, maka Nabi SAW bersabda :

خرجت لاخبركم بليلة القدر فتلاحى فلان و فلان فرفعت , و عسى ان يكون خيرا لكم, فالتمسوها فى التاسعة و السابعة و الخامسة

"Aku keluar untuk mengabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar , tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapan kedatangannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian. Carilah Malam tersebut pada malam-malam 29,27,dan 25." (HR. Bukhori)

4. Tanda-tanda Lailatul Qadar 
  Lailatul Qadar  mempunyai beberapa tanda, baik pada malamnya maupun setelah terjadinya (esok harinya).

  Adapun tanda-tanda pada malamnya, diantaranya:
a. Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul Qadar  dibandingkan dengan malam-malam lainnya.
    Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal di tempat yang jauh dari sinar listrik atau sejenisnya.

b. Thuma'ninah.
   Yaitu ketenangan hati dan kelapangan dada yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang lainnya.

c. Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul Qadar, tidak berhembus kencang dan tidak ada guntur.
   Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah r.a "Sesungguhnya Rosulullah SAW bersabda:

و هي ليلة طلقة بلجة, لا حارة و لا باردة

"(Lailatul Qadar ) adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin." (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dishohihkan keduanya)

d. Terkadang Allah SWt memperlihatkan malam Lailatul Qadar  kepada seseorang dalam mimpinya.
    Sebagaimana hal ini pernah terjadi pada diri para sahabat Rosulullah SAW.
Abu Sa'id Al-Khudri r.a berkata :

"Kami i'tikaf bersama Nabi SAW selama sepuluh hari pada pertengahan bulan Ramadhan. Dan tatkala pagi hari tanggal 20, kami pulang dan tidur, lalu aku bermimpi melihat  Lailatul Qadar , kemudian aku dilupakannya. ketika hari menjelang malam, Nabi duduk di atas mimbar, berkhutbah kepada manusia dan menyebutkan kejadian itu, seraya berkata : "Barang siapa yang beri'tikaf bersama Nabi Saw maka hendaklah ia kembali ke tempat i'tikafnya." (HR. Ibnu Khuzaimah, Hadits Hasan)

e. kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam  Lailatul Qadar  lebih dari malam-malam lainnya.
Allah SWt berfirman:
"Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qodar : 5)

  Adapun tanda setelah terjadi (besok pagi harinya) di antaranya: matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tidak terik sinarnya dan tidak menyilaukan, berbeda dengan hari-hari biasanya.

  Ubay bin Ka'ab r.a berkata : sungguh Rosulullah Saw mengabarkan kepada kami:

انها تطلع يومئذ لا شعاع لها

 "Sesungguhnya matahari terbit pada hari itu keadaan tidak bersinar kuat." (HR. Muslim)

    Adapun tanda yang menyebutkan bahwa tidak ada atau sedikitnya gonggongan anjing pada malam  Lailatul Qadar  adalah tidak benar, karena terkadang dijumpai pada 10 malam terkhir di bualan Ramadhan anjing dalam keadaan menyalak atau menggonggong dan memang tidak ada dalilnya juga.

    Semua petunjuk ini merupakan petunjuk Nabi Saw mengenai  Lailatul Qadar, tapi tidak bisa kita memastikan waktu tersebut, kapan terjadi? Tanda ini tidak berulang-ulang, karena malam  Lailatul Qadar selalu berbeda-beda cuacanya di berbagai negara berbeda pula waktunya. Ia mungkin dijumpai di negara yang tidak putus hujannya. Kemungkinan pula di negara lain yang sedang kemarau panjang. Karena setiap negara berbeda temperatur panas dan sejuknya.

5. Kiat Menggapai  Lailatul Qadar 
     Lailatul Qadar  hanya ada di bulan Ramadhan dan lebih ditekankan mencarinya pada sepuluh malam terakhir darinya, dan pada malam-malam ganjil lebih dikhususkan lagi. Pendapat yang benar bahwa  Lailatul Qadar  tersembunyi, tidak ada seseorang pun mengetahui dan menentukan hari kedatangannya secara pasti.

    Malam  Lailatul Qadar  berpindah pindah harinya pada setiap tahun.  Lailatul Qadar  terkadang pada tahun ini di tanggal 29 ramadhan, dan pada tahun lainnya di tanggal 27 Ramadhan atau kemungkinan lainnya. Sungguh Allah Swt telah menyembunyikan malam itu dari hamba-hambanya, tidak lain agar mereka bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Mereka memperbanyak Sholat, Doa, menangis, dan membaca Al-Qur'an pada malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan karena berharap untuk menggapai  Lailatul QadarLailatul Qadar  bagaikan waktu Mustajabah (waktu yang dikabulkan untuk berdoa) pada hari Jum'at, adanya pada jam berapa? Tidak ada seorang pun yang mengetahui kepastiaanya. Al-Baghowi r.a berkata, "Secara kesuluruhan, Allah SWt menyamarkan malam  Lailatul Qadar  pada umat ini agar mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam-malam Ramadhan sebagai bentuk keseriusan dalam pencariannya.

    Dahulu Nabi Saw mencari  Lailatul Qadar  dan menyuruh para sahabatnya agar mencarinya juga. Dan Nabi Saw membangunkan keluarganya pada malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan dengan harapan agar mereka menggapai  Lailatul Qadar. nabi Saw pada malam-malam itu mengencangkan ikat pinggangnya, yaitu menjauhi istri-istrinya untuk sementara waktu agar fokus ibadah.

    Wahai kaum muslimin dan muslimah yang jujur dan takut pada Azab Robbnya serta ingin lari dari api neraka yang menyala-nyala, mari kita bangun (sholat) pada malam-malam itu, bri'tikaf sesuai kemampuan kita sebagai peneladan terhadap Nabi muhammad Saw. malam-malam itu hanya sepuluh hari, kemudian selesai dengan berakhirnya bulan penuh berkah dan kebaikan. Malam-malam itu terbatas dengan hitungan jari, dan tamu mulia ini akan pergi dengan kebahagiaan dan kerinduan, pergi dengan kesedihan dan kecintaan.

    Hendaknya semua kaum muslimin dan muslimah melaksanakan sholat Tarawih dan Tahajjud dengan berjamaah di rumah-rumah Allah SWt (Masjid), mengharap rahmatnya dan takut azabnya. Sebagaimana seorang yang semangat dalam mengumpulkan harta kekayaan. Sepuluh hari itu adalah penutup bulan Ramadhan, dan ukuran kebaikan seseorang adalah pada amal perbuatan di akhirnya. Semoga kita semua mendapatkan malam Lailatul Qadar dalam keadaan berdiri sholat menghadap Robb Alam semesta, dan Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita semua yang lampau.

    Hendaknya setiap muslim menganjurkan keluarganya, memberikan semangat, motivasi mereka untuk bangun malam dan memperbanyak ibadah, ketaatan dan kebaikan. Abu Hurairah Saw bersabda Nabi Saw bersabda:

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di bulan itu. Di bulan tersebut pintu-pintu surga di buka. Pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Dan di dalamnya terdapat malam  Lailatul Qadar  yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa diharamkan kebaikannya, maka ia benar-benar telah diharamkan." (HR. Ahmad, An-Nasa'i, dishohihkan Al-Albani)

Ubadah bin Shomit r.a berkata :
"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah menurunkan padanya rahmat, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan doa, dan Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan padanya rahmat Allah. " (HR. Ath-Thobroni)

    Wahai para pembaca yang budiman, berlomba-lomba lah kalian dalam ketaatan dan peribadatan kepada Allah. Hindarilah terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan.
Allah Swt berfirman:

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir." (QS. Qof [50] : 18)


    Berikut Ini beberapa kiat untuk menggapai  Lailatul Qadar :

a) Memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa, baik dengan mengundang mereka untuk buka bersama di rumah atau di masjid, atau dengan mengirimkan makanan kepadanya.
    Dengan ini kita mendapatkan pahala puasa Ramadhan yang banyak. Karena sabda Rasulullah Saw:

من فطر صائما, كان له مثل اجره غير انه لا ينقص من اجر الصائم شيئا

"Barang siapa yang memberi buka orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang diberinya buka tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun." (HR. At-Tirmidzi, dishosihkan Al-Albani)
    Apalagi jika amal ini bertepatan dengan  Lailatul Qadar, maka akan berlipat-lipat lagi pahalanya.

b) Berdoalah selalu agar mendapatkan  Lailatul Qadar ketika anda sedang mengerjakan amal sholeh.

c) Bersedekah di malam-malam yang diduga  Lailatul Qadar.
    Rosulullah Saw bersabda:
"Barang siapa bersedekah seharga sebutir kurma dari penghasilan yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik, sesungguhnya Allah akan menerima dengan tangan kanannya, lalu memeliharanya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang dia antara kalian memelihara anak kuda, sehingga menjadi sebesar gunung." (HR. Al-Bukhori)

d) Berbakti Kepada Orang tua
    Jika orang tua kita masih hidup, maka dekatilah mereka dengan senyuman dan perkataan baik, penuhi kebutuhan mereka dan berbukalah bersama mereka.

    Jika orang tua sudah meninggal, maka kita dapat berbakti kepada mereka dengan mendoakan kebaikan kepada mereka.

    Rosulullah Saw bersabda:
"Apabila anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfat dan anak sholeh yang berdoa untuknya." (HR. Muslim)

e) Membaca dzikir pagi dan petang
    Dzikir pagi dan petang sangat penting bagi kaum muslimin, di antaranya adalah untuk menjaga dirinya dari berbagai godaan setan, yang akan menyebabkan manusia lalai dari ibaah dan mengingat Allah SWt, sehingga malam Lailatul Qadar  pun terlewatkan dengan sia-sia. Oleh karena itu, hendaklah kita membiasakan dzikir pagi dan petang dengan rutin setiap hari, lebih-lebih pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadahan.

    Abu Hurairah r.a berkata : "Seorang laki-laki menghadap Rasulullah Saw sambil berkata: "Wahai Rasulullah Saw, kemarin saya disengat kalajengking", maka Rosulullah Saw bersabda :

اما انك لو قلت حين امسيت اعوذ بكلمة الله التامات من شر ما خلق, لم تضرك

"Seandainya ketika sore hari engkau membaca: A'udzu bikalimatillahit taamaati min syarri maa kholaq (aku berlindung dengan perantara kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluknya), niscahya engkau tidak akan disengatnya." (HR. Muslim)

0 komentar:

Posting Komentar